Prinsip Kerja Pompa Aksial


Pompa aksial merupakan salah satu jenis pompa yang masuk ke dalam kelompok pompa dinamik. Pompa jenis ini berfungsi untuk mendorong fluida kerja dengan arah yang sejajar terhadap sumbu/poros impellernya. Hal ini berbeda dengan pompa jenis sentrifugal yang arah output fluidanya tegak lurus dengan sumbu impeller.

Energi mekanik yang dihasilkan oleh sumber penggerak ditransmisikan melalui poros impeller untuk menggerakkan impeller pompa. Putaran impeller memberikan gaya aksial yang mendorong fluida sehingga menghasilkan energi kinetik pada fluida kerja tersebut. Pada beberapa desain pompa aksial, terpasang sudu-sudu tetap (diam) yang membentuk difuser pada sisi keluaran pompa. Fungsinya adalah untuk menghilangkan efek berputar dari fluida kerja dan mengkonversikan energi kinetik yang terkandung di dalamnya menjadi tekanan kerja.

20121005-024623 PM.jpg

Gambar Penampang Pompa Aksial

Pompa aksial digunakan pada sistem-sistem yang membutuhkan debit aliran fluida tinggi, dengan besar head yang rendah. Pompa jenis ini banyak digunakan pada sistem irigasi, pompa penanggulangan banjir, dan di pembangkit listrik tenaga uap digunakan untuk mensupply air laut sebagai media pendingin di kondensor.

20121005-022728 PM.jpg

Grafik Perbandingan Kurva Karakteristik Pompa Sentrifugal dan Aksial

Berikut adalah beberapa perbandingan antara pompa aksial dengan pompa sentrifugal :

  • Jika dilihat kurva efisiensinya, pompa sentrifugal dengan pompa aksial memiliki tingkat efisiensi maksimum yang hampir sama.
  • Jika debit aliran fluida turun, daya input untuk pompa sentrifugal menjadi turun sampai dengan 180 hp pada saat aliran fluida terhenti.
  • Namun pada pompa aksial daya input menjadi naik ke 520 hp pada saat aliran fluida terhenti.
  • Pompa aksial dapat menyebabkan motor penggerak overload jika debit aliran dikurangi secara drastis dari kapasitas desainnya.
  • Head yang dihasilkan oleh pompa sentrifugal jauh lebih tinggi daripada pompa aksial.
  • Pada kurva efisiensi di luar efisiensi maksimumnya, pompa aksial memiliki tingkat efisiensi yang lebih rendah daripada pompa sentrifugal.

Ref: http://artikel-teknologi.com/prinsip-kerja-pompa-aksial/

Nasehat Menjelang UAS 2015/2016


Menjelang Ujian Akhir Semester kelak, 4 Januari 2016, ijinkanlah saya menyampaikan nasehat singkat ini kepada para mahasiswa, khususnya mahasiswa Teknik Mesin Unisma Bekasi. Semoga menjadikan motivasi bagi kalian semua. “Belajarlah dengan tekun dan sungguh-sungguh. Karena sesungguhnya ujian semester itu dekat. Dan materi kuliahnya banyak. Manfaatkanlah waktu-waktu kosong kalian sebelum datang kepada kalian penyesalan. Ketahuilah wahai para mahasiswaku, bahwasanya ujian semester itu sulit, bagi siapa yang tidak membaca dan memahami”.

Samakah Riba dengan Laba?


“… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS.Al-baqarah:275)
 
Sebenarnya apa sih tujuan islam melarang riba? 341Seharusnya khan asal saling sepakat, saling rela, tidak kena dosa?
 
Hukum islam itu dibuat untuk mengatur agar manusia mendapatkan kemaslahatan sebesar-besarnya tanpa manusia merugikan siapapun sekecil-kecilnya.
 
Mari kita bahas contoh LABA dan RIBA agar anda mudah untuk memahami dengan bahasa yang umum:
 
1. Saya membeli sebuah sepeda motor Rp. 10 Juta dan saya hendak menjual dengan mengambil untung dengan bunga 1% perbulan untuk jangka waktu pembayaran 1 tahun.
Transaksi seperti ini tergolong transaksi RIBAWI.
 
2. Saya membeli sepeda motor Rp. 10 juta, dan saya hendak menjual secara kredit selama setahun dengan harga Rp. 11.200.000,-. Transaksi ini termasuk transaksi SYARIAH.
 
Apa bedanya? Khan kalau dihitung2 ketemunya sama Untungnya Rp. 1.200.000?
 
Mari kita bahas kenapa transaksi pertama riba dan transaksi kedua syar’i.
 
TRANSAKSI PERTAMA RIBA karena:
1. Tidak ada kepastian harga, karena menggunakan sistem bunga. Misal dalam contoh diatas, bunga 1% perbulan. Jadi ketika dicicilnya disiplin memang ketemunya untungnya adalah Rp. 1.200.000,-. Tapi coba kalau ternyata terjadi keterlambatan pembayaran, misal ternyata anda baru bisa melunasi setelah 15 bulan, maka anda terkena bunganya menjadi 15% alias labanya bertambah menjadi Rp. 1.500.000,-. Jadi semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk melunasi utang, semakin besar yang harus kita bayarkan.
 
Bahkan tidak jarang berbagai lembaga leasing ada yang menambahi embel2 DENDA dan BIAYA ADMINISTRASI, maka semakin riba yang kita bayarkan. Belum lagi ada juga yang menerapkan bunga yang tidak terbayar terakumulasi dan bunga ini akhirnya juga berbunga lagi.
 
2. Sistem riba seperti diatas jelas2 sistem yang menjamin penjual pasti untung dengan merugikan hak dari si pembeli. Padahal namanya bisnis, harus siap untung dan siap rugi.
 
TRANSAKSI KEDUA SYARIAH karena:
1. Sudah terjadi akad yang jelas, harga yang jelas dan pasti. Misal pada contoh sudah disepakati harga Rp. 11.200.000,- untuk diangsur selama 12 bulan.
 
2. Misal ternyata si pembeli baru mampu melunasi utangnya pada bulan ke-15, maka harga yang dibayarkan juga masih tetap Rp. 11.200.000,- tidak boleh ditambah. Apalagi diistilahkan biaya administrasi dan denda, ini menjadi tidak diperbolehkan.
 
Kalau begitu, si penjual jadi rugi waktu dong? Iya, bisnis itu memang harus siap untung siap rugi. Tidak boleh kita pasti untung dan orang lain yang merasakan kerugian.
 
Nah, ternyata sistem islam itu untuk melindungi semuanya, harus sama hak dan kewajiban antara si pembeli dan si penjual. Sama-sama bisa untung, sama-sama bisa rugi. Jadi kedudukan mereka setara. Bayangkan dengan sistem ribawi, kita sebagai pembeli ada pada posisi yang sangat lemah.
 
Nah, sudah lebih paham hikmahnya Alloh melarang RIBA?
 
Kalau menurut anda informasi ini akan bermanfaat untuk anda dan orang lain, silakan share status ini, untuk menebar kebaikan.
Ref: http://8kabar.blogspot.com/2015/12/jangan-pernah-menyamakan-laba-dengan.html

Sudah Baikkah Perangai Diri Kita?


Setiap orang pada dasarnya menyukai kebaikan hatta seorang penjahat sekalipun. Tidak ada seorang penjahat yang menginginkan anaknya mengikuti jejaknya menjadi seorang penjahat. Bahkan apabila ada orang lain yang mengatakan “kamu penjahat” kepada seorang penjahat, maka penjahat tersebut tidak akan menerima. Kecuali apabila fitrahnya telah rusak. Demikian pula, setiap orang akan senang dan terharu apabila dikatakan kepadanya “kamu seperti malaikat”. Pun sebaliknya setiap orang akan geram kepada siapapun yang mengatakan kepadanya “kamu seperti setan” hatta ia memiliki karakter dan perangai seperti setan.

Nah, bagaimana kita menilai diri kita tergolong orang baik atau tidak?

Tolok ukur kebaikan seseorang tak lepas dari tiga poros kebaikan berikut ini:

[1] Suka memberi

Kita tidak ragu lagi untuk menyematkan predikat orang baik kepada seseorang yang suka memberi. Orang yang suka akan sesuatu cenderung tulus melakukan pekerjaanya yang disukainya. Berbeda dengan seseorang yang semata sering memberi. Belum tentu pemberiannya didasari ketulusan. Bisa jadi pemberian tersebut diiringi dengan mengolok-olok atau pemberian dari yang buruk yang ia sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 267, (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari HASIL USAHAMU YANG BAIK-BAIK dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan JANGANLAH KAMU MEMILIH YANG BURUK-BURUK lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Kalau yang seperti ini, maka sulit bagi kita untuk menyematkan padanya sebagai orang baik.

Memberi tidak selalu diidentikan dengan uang atau barang. Dengan tenaga dan pikiran pun sangat mungkin bisa dilakukan. Bahkan hanya dengan seulas senyum sekalipun. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang lebih banyak manfaatnya kepada sesamanya. Diantara indikator banyaknya manfaat kepada sesama adalah banyaknya sesuatu yang dapat diberikan kepada selainnya. Entah curahan pikiran, tenaga, harta dan selainnya.

Lalu sudahkah kita memiliki kriteria ini? Marilah kita menilai diri sendiri. Tidak perlu menilai orang lain.

[2] Mampu mengendalikan diri

Kriteria kedua untuk menilai baiknya pekerti seseorang adalah kemampuan mengendalikan diri. Mengendalikan diri disini lebih bersifat umum. Bukan hanya pengendalian diri dari tindakan yang menyakiti orang lain, akan tetapi juga pengendalian diri dari ucapan yang melukai hati bahkan juga pengendalian diri dari pengiriman sinyal hati yang negatif seperti prasangka buruk, iri, dengki, hasad, ujub, dan yang lainnya. 

Orang yang mampu mengendalikan diri dari menyakiti sesamanya dengan tangan dan lisannya belum bisa dikatakan sebagai orang baik manakala belum mampu mengendalikan diri dari berprasangka buruk, iri, hasad, dengki dan berbagai penyakit hati yang lainnya. Sebab tanpa diagnosa awal dan upaya untuk mengenyahkannya, amat sangat mungkin amalan hati tersebut dapat menjelma menjadi tuturan lisan yang memicu timbulnya konflik di antara sesama.

So, sudahkan kita mampu mengendalikan diri terhadap tangan, lisan dan hati kita dari menganggu dan menyakiti sesama? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari )

[3]  Suka memaafkan

Kriteria ketiga yang tak kalah dominannya dari dua kriteria diatas adalah suka memaafkan. Orang yang suka memaafkan terhadap orang yang berbuat salah kepadanya tidak lain adalah mereka yang memiliki jiwa besar. Termasuk dalam hal ini adalah suka memaklumi. Tidak banyak orang yang mudah apalagi suka memaklumi terhadap kesalahan dan kekhilafan orang lain. Seseorang yang mudah memaklumi terhadap ketergelinciran orang lain, akan sangat mudah memberikan 70 alasan/udzur kepada  saudaranya yang tengah terjatuh dalam kesalahan. Ia pun mudah berbaik sangka kepada saudaranya. Barangkali dibalik sebab terjatuhnya kesalahan yang tampak nyata di depan mata, terdapat rentetan sebab-sebab lain yang tak seorangpun tau kecuali dirinya dan Robbnya. 

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.”
(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
(Dikeluarkan oleh Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berapa kali kita memaafkan (kesalahan) pembantu?”

Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang perkataannya dan Nabi pun masih terdiam.

Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali.”
(HR. Abu Dawud)

Ingat 70 kali berbuat salah kita seharusnya tetap memberi maaf.

Maaf itu indah, dendam dan sakit hati adalah duri dalam hati. Duri di kaki saja buang apalagi di dalam hati.

Orang yang mudah memaafkan juga merupakan ciri orang yang bertaqwa sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya:

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dari dua ayat diatas, secara gamblang Allah menjelaskan tiga kriteria kebaikan sebagaimana yang sudah diuraikan diatas, yakni [1] Berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit, [2] Menahan amarah/mampu mengendalikan diri, [3] memaafkan kesalahan orang lain.

Orang baik sejati adalah orang yang memiliki ketiga kriteria diatas. Tanpa salah satunya, barangkali kita masih ragu untuk menyematkan padanya orang baik. Pertanyaannya, sudahkah kita memiliki ketiganya? 

Kita berdoa kepada Allah agar diberi akhlaq yang baik. Rasulullah mengajarkan:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku kejelekan akhlak, tidak ada yang memalingkannya kecuali Engkau.” (HR: Muslim)

Macam-Macam Turbin


Turbin adalah suatu mesin rotari yang berfungsi untuk mengubah energi dari aliran fluida menjadi energi gerak yang bermanfaat.

Mesin turbin yang paling sederhana terdiri dari sebuah bagian yang berputar disebut rotor, yang terdiri atas sebuah poros/shaft dengan sudu-sudu atau blade yang terpasang disekelilingnya. Rotor tersebut berputar akibat dari tumbukan aliran fluida atau berputar sebagai reaksi dari aliran fluida tersebut. Oleh karena itulah turbin terbagi atas 2 jenis, yaitu turbin impuls dan turbin reaksi. Rotor pada turbin impuls berputar akibat tumbukan fluida bertekanan yang diarahkan oleh nozzle kepada rotor tersebut, sedangkan rotor turbin reaksi berputar akibat dari tekanan fluida itu sendiri yang keluar dari ujung sudu melalui nozzle. Untuk lebih jelasnya dapat kita amati pada gambar di bawah ini.

Prinsip Turbin Impuls dan Reaksi

20110803-042533.jpg

Turbin Impuls
Turbin ini merubah arah dari aliran fluida berkecepatan tinggi menghasilkan putaran impuls dari turbin dan penurunan energi kinetik dari aliran fluida. Tidak ada perubahan tekanan yang terjadi pada fluida, penurunan tekanan terjadi di nozzle.

Turbin Reaksi
Turbin ini menghasilkan torsi dengan menggunakan tekanan atau massa gas atau fluida. Tekanan dari fluida berubah pada saat melewati sudu rotor. Pada turbin jenis ini diperlukan semacam sudu pada casing untuk mengontrol fluida kerja seperti yang bekerja pada turbin tipe multistage atau turbin ini harus terendam penuh pada fluida kerja (seperti pada kincir angin).

Berikut adalah macam-macam turbin berdasarkan aplikasi penggunaannya:

1. Turbin Uap (Steam Turbine)
Turbin uap menggunakan media uap air sebagai fluida kerjanya. Banyak digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan bahan bakar batubara, solar, atau tenaga nuklir. Prinsip dari turbin ini adalah untuk mengkonversi energi panas dari uap air menjadi energi gerak yang bermanfaat berupa putaran rotor.

Turbin Uap pada PLTU

2. Turbin Gas
Turbin jenis ini menggunakan fluida udara yang dipanaskan secara cepat sebagai fluida kerjanya. Sebuah kompresor yang berfungsi untuk mengkompres udara dipasang satu poros dengan turbin (coupled).

Skema dan Gambar Penampang Turbin Gas

20110806-084922.jpg

Animasi Turbin Gas

3. Turbin Air
Turbin ini termasuk jenis turbin yang paling sederhana disamping kincir angin. Ada 3 jenis turbin air yaitu turbin Pleton, turbin Franchis, dan turbin Kaplan.

Animasi Perbedaan Turbin Air Pleton, Franchis, dan Kaplan

4. Turbin Angin
Turbin angin lebih dikenal dengan kincir angin, berfungsi untuk mengkonversi energi kinetik dari anginmenjadi energi gerak.

Ref: http://artikel-teknologi.com/macam-macam-turbin/

By Taufiqur Rokhman Posted in Home

Injection Moulding


Prinsip Kerja

Proses injection molding atau pencetakan injeksi umumnya digunakan untuk mencapai pencetakan berkecepatan tinggi dari bahan termoplastik.

Termoplastik adalah jenis plastik yang menjadi lunak jika dipanaskan dan akan mengeras jika didinginkan dan proses ini bisa dilakukan berulang kali. Nama termoplastik diperoleh dari sifat plastik ini yang bisa dibentuk ulang dengan proses pemanasan. Secara sederhana termoplastik adalah jenis plastik yang bisa di daur ulang.

Proses injection molding bekerja berdasarkan prinsip bahwa termoplastik cair disuntikkan ke dalam cetakan dengan  tekanan tinggi untuk mencapai bentuk sesuai yang diinginkan. Sistem plunjer diantaranya digunakan untuk mencapai tekanan tinggi tersebut.

Operasi

Bahan yang akan digunakan untuk pencetakan dimasukkan ke hopper untuk dipanaskan. Bahan tersebut kemudian ditransfer menggunakan sebuah perangkat di mana suhu sekitar adalah 150° – 370 ° C. Selanjutnya bahan tersebut dilebur dan didorong oleh ram injeksi atau sebuah pendorong melalui nozzle dalam cetakan tertutup.

 Ada dua jenis injection molding. Yaitu:

 [1] Ram or Plunger Type Injection Moulding (Pencetakan Injeksi Tipe Plunjer Atau Ram)

Jenis sistem cetak injeksi memiliki dua unit. Mereka adalah unit injeksi dan unit klem. Dalam beberapa kasus, unit-unit ini dapat dibagi untuk mengeluarkan komponen yang sudah jadi. Pertama termoplastik yang dipilih diisikan dalam hopper. Kemudian dibawa ke bagian pemanasan dimana termoplastik meleleh dan tekanan meningkat. Dengan bantuan ram, bahan yang dipanaskan disuntikkan di bawah tekanan. Hal ini membuat bahan dapat memenuhi setiap rongga cetakan melalui nozzle untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. Pada tipe ini, air umumnya digunakan untuk tujuan pendinginan.

 01 - PLUNGER TYPE INJECTION MOULDING - TYPE OF INJECTION MOULDING

[2] Screw Type Injection Moulding (Pencetakan Injeksi Tipe Sekrup)

Tipe ini juga memiliki dua unit untuk membagi dan mengeluarkan komponen yang sudah jadi. Dua unit tersebut adalah unit injeksi dan unit klem.

Unit injeksi terdiri dari hopper, sekrup dan bagian pemanasan. Rongga cetakan berada dalam unit penjepit. Pada tipe ini, pelet pertama kali dimasukkan ke dalam hopper. Resin didorong bersama dengan sekrup bola-balik dalam kondisi panas. Sekrup tersebut dipindahkan ke depan untuk mendorong bahan plastik ke dalam cetakan. Sekrup itu sendiri bergerak mundur dan memungkinkan akumulasi bahan yang cukup untuk mengisi cetakan. Perputaran sekrup memberikan tindakan plasticizing oleh efek gesekan dan geser. Gerakan aksial sekrup memberikan tindakan pengisian. Proses pencetakan jet digunakan untuk menemukan masalah yang terjadi dalam proses injection molding. Molding reaksi adalah pengembangan terbaru dalam cetak injeksi. Dalam molding reaksi, monomer viskositas rendah digunakan dalam cetakan. Ada reaksi kimia yang terjadi antara resin pada suhu rendah dan polimer yang dibuat.

 01 - SCREW TYPE INJECTION MOULDING - TYPE OF INJECTION MOULDING

Dalam proses pencetakan jet,  bahan thermoplastic dipanaskan sekitar 93°C di nozzle sekitar silinder. Molding reaksi cocok digunakan untuk produksi cetakan poliuretan.

Proses pencetakan jet digunakan dalam pembuatan bagian-bagian dari benang yang kompleks. Produksi pada bentuk yang rumit seperti bagian berdinding tipis menjadi lebih mudah dengan menggunakan proses ini. Terutama digunakan untuk produksi komponen listrik dan komunikasi seperti kabel telepon.

Source: mechanicalengineeringblog.com/4964-injection-moulding-process-types-of-injection-moulding-process

[Taufiqur Rokhman – 18102015 – 22.30, Singkep 8 Perumnas III – Bekasi Timur]

Dasar-Dasar Pompa


Pada kesempatan kali ini saya ingin membedah secara lebih dalam mengenai pompa. Pompa sentrifugal menjadi titik fokus kita karena pompa ini paling banyak digunakan oleh kita semua. Namun tidak menutup kemungkinan untuk membahas pompa tipe lain. Untuk mengetahui apa saja macam-macam pompa Anda bisa membaca artikel saya di blog saya ini.

20120814-111535 AM.jpg

Pompa Sentrifugal

Pada pompa sentrifugal terjadi perubahan energi yang diakibatkan oleh dua komponen utama pompa, yaitu impeller dan diffuser. Impeller adalah bagian pompa yang berputar, yang mengkonversikan energi mekanik berupa putaran pada poros menjadi energi kinetik. Sedangkan diffuser (volute cassing) adalah bagian pompa yang diam, yang mengkonversikan energi kinetik menjadi energi tekanan. Sehingga secara umum pompa berfungsi untuk mengubah energi mekanik poros pompa menjadi energi tekanan berupa head fluida yang dipompa.

Besar debit fluida yang dialirkan oleh pompa sentrifugal pada putaran konstan, tergantung dari besar diferensial tekanan atau head yang dihasilkan pompa. Semakin besar head pompa akan semakin kecil debit aliran fluida yang dialirkan, begitu pula sebaliknya. Nilai dari head pompa vs. kapasitas debit ini dapat dibuat sebuah grafik yang menunjukkan grafik karakteristik pompa. Grafik ini biasanya disertakan oleh produsen pompa pada setiap produknya untuk menggambarkan karakteristik dari pompa yang ia produksi. Bentuk dari kurva head-kapasitas pompa sentrifugal merupakan fungsi dari ukuran dan desain pompa, diameter dari impeller, dan kecepatan operasionalnya.

20120814-124951 PM.jpg

Kurva Head-Kapasitas Pompa Sentrifugal

Head Pompa

Head pompa adalah sebuah satuan linier vertikal untuk menunjukkan ketinggian maksimum sebuah pompa spesifik saat memompa fluida menuju outletnya.

Umumnya yang menjadi pertanyaan kita di awal mempelajari pompa adalah “Mengapa satuan yang digunakan adalah meter (SI) atau feet (CGS), dan bukan satuan tekanan?”

Jawabannya sangat sederhana, sebuah pompa dengan spesifikasi tertentu akan menghasilkan “meter ketinggian (head)” yang sama sekalipun memompa berbeda-beda fluida dengan massa jenis yang berbeda-beda pula. Di sisi lain, ia akan menghasilkan tekanan yang berbeda antara fluida-fluida tersebut sesuai dengan massa jenisnya.

20120829-012341 AM.jpg

Tekanan Keluaran Pompa Pada Dua Fluida Berbeda

Jika ada dua pompa yang identik memompa dua fluida yang berbeda massa jenisnya, pembacaan tekanan di sisi keluaran pompa akan berbeda sekalipun di titik ketinggian yang sama. Oleh karena itulah digunakan satuan “meter ketinggian” untuk merepresentasi besar head pompa.

Source: http://artikel-teknologi.com/dasar-dasar-pompa/

HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning)


HVAC berfungsi menjaga kondisi udara sekitar untuk melindungi alat-alat, dan kenyamanan personal dengan cara mengatur ventilasi dan pengkondisian udara.

HVAC merupakan singkatan dari Heating, Ventilation, and Air Conditioning. Yang mana sistem pengkondisian udara ini merupakan aplikasi dari beberapa cabang ilmu Mechanical Engineering yaitu termodinamika, mekanika fluida, dan perpindahan panas.

HVAC termasuk vital penggunaannya di beberapa industri, terutama di gedung-gedung, perkantoran yang dipenuhi peralatan komputer yang perlu dijaga kelembaban udaranya, serta industri-industri besar yang memerlukan sistem ventilasi yang baik. Berikut akan saya jelaskan lebih mendetail mengenai HVAC.

1. Heating
Sistem ini banyak digunakan di daerah-daerah yang beriklim dingin, yang sepanjang musim didominasi dengan suhu yang dingin. Tersusun oleh beberapa bagian penting antara lain boiler, furnace, heat pump, radiator, dan hydronic.

Furnace berfungsi sebagai sumber panas yang ditransfer ke media air bernama hydronic di boiler. Hydronic tersirkulasi berkat kerja dari heat pump, yang selanjutnya setelah dari boiler, hydronic menuju ke radiator untuk memindahkan panas yang dikandungnya ke udara yang tersirkulasi. Udara inilah yang digunakan untuk memanaskan ruangan.

2. Ventilation
Ventilation adalah proses untuk mensirkulasikan udara di dalam suatu ruangan dengan udara luar, yang bertujuan untuk me-remove debu, kelembaban, bau-bauan yang tidak sedap, karbon dioksida, panas, bakteri di udara, serta meregenerasi oksigen di dalam ruangan. Ventilasi merupakan salah satu penerapan teori mekanika fluida.

Penggunaan Ventilation Fan pada Industri

20110622-113951.jpg

Ada dua jenis ventilation, yaitu forced ventilation dan natural ventilation. Forced ventilation adalah sistem ventilasi yang menggunakan bantuan fan atau kipas untuk mensirkulasikan udara di dalam ruangan. Sistem ini banyak digunakan di perindustrian besar, gedung-gedung, dan contoh yang paling dekat dengan kita adalah di dapur dan di kamar mandi. Di dapur biasanya dipasang fan untuk menghisap asap dari kompor dan dibuang keluar. Sedangkan di kamar mandi jelas digunakan untuk mengusir bau-bauan yang tidak sedap dari dalam kamar mandi.

Exhaust Fan untuk Rumah-rumah

20110622-113818.jpg

Sedangkan untuk natural ventilation tidak diperlukan bantuan kipas untuk mensirkulasikan udara. Biasanya hanya berupa jendela yang dibiarkan terbuka di suatu ruangan.

3. Air Conditioning
Air Conditioning (AC) menggunakan prinsip siklus mesin pendingin, yang terdiri dari beberapa bagian penting yaitu refrigerant, kompresor, heat exchanger (Evaporator dan Kondensor), dan katup ekspansi.

Kalau Anda googling pasti sudah banyak yang menjelaskan bagaimana prinsip kerja dari AC. Di sini yang perlu saya tekankan adalah adanya sedikit perbedaan antara AC yang biasa Anda gunakan di rumah, dengan AC yang digunakan di perkantoran, gedung-gedung, atau perindustrian. Ada satu media bernama liquid chiller yang digunakan.

Kompresor AC pada salah satu kantor

20110622-114125.jpg

Jadi prosesnya menjadi seperti berikut. Udara yang tersirkulasi diserap panasnya melalui heat exchanger oleh liquid chiller di satu komponen bernama Air Handling Unit (AHU). Sedangkan panas dari liquid chiller diserap oleh refrigerant melalui heat exchanger yang lainnya. Jadi ada semacam proses pendinginan bertingkat di dalamnya.

Air Handling Unit

20110622-114234.jpg

Ada satu alasan yang kuat mengapa AC yang digunakan di gedung-gedung besar menggunakan liquid chiller. Karena udara yang bersirkulasi di dalam gedung bervolume besar, maka akan lebih jauh efisien jika menggunakan media liquid chiller sehingga energi yang dibutuhkan untuk operasional AC lebih rendah jika dibandingkan tanpa menggunakan liquid chiller.

Source: http://artikel-teknologi.com/hvac-heating-ventilating-and-air-conditioning/

Kumpulan Peraturan Terkait Pendidikan


Undang-undang (untuk download peraturannya, klik pada bagian tanggalnya)

  1. 23 Tahun 2014: Pemerintah Daerah, membatalkan UU 12 Tahun 2008, UU 32 Tahun 2004, dan UU 08 Tahun 2005, dan diubah oleh Perppu no. 2 tahun 2014. (offsite)
  2. 22 Tahun 2014: Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, diubah oleh Perppu no. 1 Tahun 2014. (offsite)
  3. 17 Tahun 2014: MPR, DPR, DPD, dan DPRD. (offsite)
  4. 12 Tahun 2014: Perubahan atas UU no. 23 Tahun 2013 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2014. (offsite)
  5. 11 Tahun 2014: Keinsinyuran. (offsite)
  6. 5 Tahun 2014: Aparatur Sipil Negara.
    Naskah Akademik RUU-nya. (offsite)
    K.26-30/V.7-3/99: Surat Kepala BKN tentang Batas Usia Pensiun (BUP) PNS yang merujuk pada UU No. 5 Tahun 2014. (offsite)
  7. 23 Tahun 2013: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2014. (offsite)
  8. 20 Tahun 2013: Pendidikan Kedokteran. (offsite)
  9. 17 Tahun 2013: Organisasi Kemasyarakatan. (offsite)
  10. 15 Tahun 2013: Perubahan atas Undang-Undang no.19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013. (offsite)
  11. 19 Tahun 2012: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013. (offsite)
  12. 18 Tahun 2012: Pangan. (offsite)
  13. 17 Tahun 2012: Perkoperasian. (offsite)
  14. 12 Tahun 2012: Pendidikan Tinggi lengkap dengan penjelasannya. (offsite, mirror). Uji terhadap UU ini oleh MK pada Februari 2013 dapat diikuti di sini. Panduan proposalAkademi Komunitas yang diselenggarakan oleh masyarakat. (offsite)
  15. 24 Tahun 2011: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. (offsite)
  16. 22 Tahun 2011: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 dan penjelasannya (offsite)
  17. 16 Tahun 2011: Bantuan Hukum (offsite)
  18. 15 Tahun 2011: Penyelenggara Pemilihan Umum (offsite)
  19. 12 Tahun 2011: Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (offsite)
  20. 10 Tahun 2010: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011 dan penjelasannya (offsite)
  21. 09 Tahun 2010: Keprotokolan (lengkap dengan penjelasan)
  22. 05 Tahun 2011: Akuntan Publik (offsite)
  23. 02 Tahun 2010: Perubahan atas Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010 (offsite)
  24. 24 Tahun 2009: Bendera, Bahasa, dan Lambang Negera, serta Lagu Kebangsaan (offsite)
  25. 43 Tahun 2009: Kearsipan. (offsite)
  26. 36 Tahun 2009: Kesehatan. (offsite)
  27. 35 Tahun 2009: Narkotika. (offsite)
  28. 25 Tahun 2009: Pelayanan Publik. (offsite)
  29. 24 Tahun 2009: Bendera, bahasa dan lambang negara, serta lagu kebangsaan. (offsite)
  30. 20 Tahun 2009: Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (offsite)
  31. 09 Tahun 2009: Badan Hukum Pendidikan 2009 (Wikisource)
    Putusan Mahkamah Konstitusi menolak UU BHP (offsite),
    Tayangan pptx penjelasan dari Kemendiknas.
  32. 42 Tahun 2008: Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (offsite)
  33. 40 Tahun 2008: Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (offsite)
  34. 36 Tahun 2008: Pajak Penghasilan dan Penjelasannya (offsite); perubahan keempat atas UU No. 7 tahun 1983.
  35. 14 Tahun 2008: Keterbukaan Informasi Publik (offsite)
  36. 12 Tahun 2008: Perubahan Kedua UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, 08 Tahun 2005 perubahan Pertama (offsite)
  37. 11 Tahun 2008: Informasi dan Transaksi Elektronik (offsite)
  38. 43 Tahun 2007: Perpustakaan (offsite)
  39. 17 Tahun 2007: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (offsite)
  40. 12 Tahun 2006: Kewarganegaraan RI dan Penjelasan (offsite)
  41. 14 Tahun 2005: Guru dan Dosen (offsite)
  42. 08 Tahun 2005: Perubahan pertama UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (offsite)
  43. 40 Tahun 2004: Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). (offsite)
  44. 32 Tahun 2004: Pemerintahan Daerah (Penjelasannya)
  45. 29 Tahun 2004: Praktik Kedokteran dan penjelasan (offsite)
  46. 28 Tahun 2004: Perubahan atas UU Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan (offsite)
  47. 15 Tahun 2004: Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (offsite)
  48. 10 Tahun 2004: Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Penjelasan, dan Sistematik Teknis Penyusunan (offsite)
  49. 7 Tahun 2004: Sumberdaya Air (offsite: 01, 02)
  50. 1 Tahun 2004: Perbendaharaan Negara (offsite)
  51. 20 Tahun 2003: Sistem Pendidikan Nasional, menggantikan UU no 02 Tahun 1989: Sistem Pendidikan Nasional. (Penjelasannya).
  52. 17 Tahun 2003: Keuangan Negara (offsite)
  53. 13 Tahun 2003: Ketenagakerjaan.
  54. 19 Tahun 2002: Hak Cipta (offsite)
  55. 18 Tahun 2002: Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (offsite)
  56. 16 Tahun 2001: Yayasan (offsite)
  57. 15 Tahun 2001: Merek (offsite)
  58. 14 Tahun 2001: Paten (offsite)
  59. 31 Tahun 2000: Desain Industri (offsite)
  60. 30 Tahun 2000: Rahasia Dagang (offsite)
  61. 24 Tahun 2000: Perjanjian Internasional (offsite)
  62. 43 Tahun 1999: perubahan atas UU no. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (pdf, offsite), dengan kelengkapannya Peraturan Pemerintah 24 Tahun 2011tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian (Bapek).
  63. 18 Tahun 1999: Jasa Konstrusi (offsite)
  64. 08 Tahun 1999: Perlindungan Konsumen (offsite)
  65. 09 Tahun 1998: Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum (offsite)
  66. 20 Tahun 1997: Penerimaan Negara Bukan Pajak (offsite)
  67. 07 Tahun 1994: Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (offsite)
  68. 43 Tahun 1993: Prasarana dan lalu lintas jalan.
  69. 04 Tahun 1990: Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (offsite)
  70. 02 Tahun 1989: Sistem Pendidikan Nasional lengkap dengan Penjelasannya. Digantikan oleh UU 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (docx)
  71. 08 Tahun 1983: Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
  72. 07 Tahun 1983: Pajak Penghasilan (offsite, format docx)
  73. 06 Tahun 1983: Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
  74. 08 Tahun 1974: Pokok-pokok Kepegawaian (offsite)
  75. 01 Tahun 1974: Perkawinan (offsite)
  76. 11 Tahun 1969: Pensiun pegawai dan pensiun janda/duda pegawai (offsite)
  77. 73 Tahun 1958: Menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1946 RI tentang Peraturan Hukum Pidana untuk seluruh wilayah RI dan mengubah KUHP. (offsite)
  78. 10 Tahun 1955: Pengubahan nama Universiteit, Universitet, Universitit, Faculteit, Facultet dan Facultit Menjadi Universitas dan Fakultas (offsite)
  79. 34 Tahun 1954: Pemakaian Gelar “Akuntan” (“Accountant”) (offsite)

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu)

  1. 2 Tahun 2014: Pemerintah Daerah, mengubah UU 23 Tahun 2014. (offsite)
  2. 1 Tahun 2014: Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, mengubah UU 22 Tahun 2014. (offsite)

Peraturan Pemerintah

  1. 38 Tahun 2015: Pemberian Gaji/Pensiun/Tunjangan Bulan Ketiga Belas dalam Tahun Anggaran 2015 kepada Pegawai Negeri Sipil, Anggota Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Negara, dan Penerima Pensiun/Tunjangan.
  2. 30 Tahun 2015: Perubahan Ketujuh Belas atas PP No. 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS. (offsite)
  3. 26 Tahun 2015: Bentuk dan Mekanisme Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. (offsite)
  4. 14 Tahun 2015: Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035. (offsite)
  5. 13 Tahun 2015: Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Perubahan pertama PP No. 32 Tahun 2013.
  6. 53 Tahun 2014: Pemberian Gaji/Pensiun/Tunjangan Bulan Ketiga Belas dalam Tahun Anggaran 2014 kepada Pegawai Negeri Sipil, Anggota Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Negara, dan Penerima Pensiun/Tunjangan. (offsite)
  7. 46 Tahun 2014: Sistem Informasi Kesehatan. (offsite)
  8. 37 Tahun 2014: Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan Pegawai Negeri Sipil dan Janda/Dudanya. (offsite)
  9. 34 Tahun 2014: Perubahan Keenam Belas atas PP No. 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS. (offsite)
  10. 30 Tahun 2014: Statuta Universitas Airlangga. (offsite)
  11. 27 Tahun 2014: Pengelolaan barang milik negara/daerah (membatalkan PP no.6 tahun 2006 jo PP no.38 Tahun 2008. (offsite)
  12. 24 Tahun 2014: Pelaksanaan Undang-Undang nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. (offsite)
  13. 21 Tahun 2014: Pemberhentian PNS yang Mencapai Batas Usia Pensiun bagi Pejabat Fungsional. (offsite)
  14. 16 Tahun 2014: Statuta Universitas Sumatera Utara. (offsite)
  15. 15 Tahun 2014: Statuta Universitas Pendidikan Indonesia. (offsite)
  16. 4 Tahun 2014: Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan tanggal 30 Januari 2014 dan diundangkan pada tanggal 4 Februari 2014.
  17. 90 Tahun 2013: Pencabutan PP 28/2003: Subsidi dan Iuran Pemerintah dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi PNS dan Penerima Pensiun. (offsite)
  18. 89 Tahun 2013: Pencabutan PP 69/1991: Pemeliharaan Kesehatan PNS, Penerima Pensiun, Veteran Perintis Kemerdekaan beserta Keluarganya. (offsite)
  19. 88 Tahun 2013: Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif bagi Anggota Dewan Pengawas dan Anggota Dewan Direksi Badan Penyelengara Jaminan Sosial. (offsite)
  20. 87 Tahun 2013: Tata Cara Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Kesehatan. (offsite)
  21. 86 Tahun 2013: Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja dan Penerima Bantuan Iuran dalam Penyelenggara Jaminan Sosial. (offsite)
  22. 85 Tahun 2013: Tata Cara Hubungan antara Lembaga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. (offsite)
  23. 78 Tahun 2013: Perubahan kedua atas PP no. 98 Tahun 2000 tentang pengadaan PNS, perubahan Pertama PP no. 11 Tahun 2002. (offsite)
  24. 58 Tahun 2013: Bentuk dan Mekanisme Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. (offsite)
  25. 32 Tahun 2013: Perubahan Pertama Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (offsite)
  26. 22 Tahun 2013: Perubahan Kelima Belas Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. (offsite)
  27. 2 Tahun 2013: Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Tentang Yayasan. (offsite: 01, 02)
  28. 103 Tahun 2012: Perubahan atas Peraturan Pemerintah no. 63 Tahun 2005 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Komisi Pemberantasan Korupsi. (offsite)
  29. 97 Tahun 2012: Retribusi Pengendalian Lalu Lintas dan Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing. (offsite)
  30. 96 Tahun 2012: Pelaksanaan Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. (offsite)
  31. 82 Tahun 2012: Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. (offsite)
  32. 74 Tahun 2012: Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. (offsite)
  33. 57 Tahun 2012: Pemberian Gaji/Pensiun/Tunjangan Bulan Ke Tiga Belas Dalam Tahun Anggaran 2012 Kepada Pegawai Negeri, Pejabat Negara, dan Penerima Pensiun/Tunjangan. (offsite)
  34. 56 Tahun 2012: Perubahan Kedua Atas PP no. 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  35. 28 Tahun 2012: Pelaksana Undang-Undang no. 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan (offsite)
  36. 46 Tahun 2011: Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil; pengganti PP No.10 Tahun 1979. (offsite)
  37. 38 Tahun 2011: Sungai (catatan, situs lain)
  38. 24 Tahun 2011: Badan Pertimbangan Kepegawaian (Bapek) dengan penjelasannya (offsite)
  39. 19 Tahun 2011: Perubahan Ketujuh Atas Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1985 Tentang Pemberian Tunjangan Veteran Kepada Veteran Republik Indonesia (offsite)
  40. 18 Tahun 2011: Perubahan Kesembilan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Pemberian Tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan (offsite)
  41. 17 Tahun 2011: Perubahan Kesepuluh Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1980 Tentang Pemberian Tunjangan Kehormatan Kepada Bekas Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Janda/Dudanya (offsite)
  42. 16 Tahun 2011: Penetapan Pensiun Pokok Purnawirawan, Warakawuri/Duda, Tunjangan Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim Piatu dan Tunjangan Orang Tua Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia beserta Lampiran I s/d V (offsite)
  43. 15 Tahun 2011: Penetapan Pensiun Pokok Purnawirawan, Warakawuri/Duda, Tunjangan Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim Piatu, dan Tunjangan Orang Tua Anggota Tentara Nasional Indonesia beserta Lampiran I s/d V (offsite)
  44. 14 Tahun 2011: Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan Pegawai Negeri Sipil dan Janda/Dudanya beserta Lampiran I s/d VIII (offsite)
  45. 13 Tahun 2011: Perubahan Ketujuh Atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2001 Tentang Peraturan Gaji Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (offsite)
  46. 12 Tahun 2011: Perubahan Ketujuh Atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2001 Tentang Peraturan Gaji Anggota Tentara Nasional Indonesia (offsite)
  47. 11 Tahun 2011: Perubahan Ketiga Belas atas PP No. 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS. Lampiran PP 11 Tahun 2011. (offsite)
  48. 94 Tahun 2010: Penghitungan penghasilan kena pajak dan pelunasan pajak penghasilan dalam tahun berjalan (offsite)
  49. 93 Tahun 2010: Sumbangan penanggulangan bencana nasional, sumbangan penelitian dan pengembangan, sumbangan fasilitas pendidikan, sumbangan pembinaan olahraga, dan biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto (offsite)
  50. 92 Tahun 2010: Perubahan kedua atas PP 29 tahun 2000 tentang usaha dan peran masyarakat jasa konstruksi (offsite)
  51. 90 Tahun 2010: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga – RKAK/L, pengganti Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2004 (offsite, mirror)
  52. 80 Tahun 2010: Tarif pemotongan dan pengenaan pajak penghasilan pasal 21 atas penghasilan yang menjadi beban APBN atau APBD (offsite). Catatan: Peraturan Pemerintah ini menggantikan PP 45 Tahun 1994
    Permenkeu 262/PMK.03/2010 (lengkap dengan lampirannya): peraturan pelaksana PP 80 Tahun 2010 (offsite)
  53. 66 Tahun 2010: Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (offsite: PP dan Penjelasannya)
  54. 59 tahun 2010: Perubahan atas PP 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (offsite)
  55. 54 Tahun 2010: Pemberian gaji/pensiun/tunjangan bulan ketiga belas dalam tahun anggaran 2010 kepada Pegawai Negeri Sipil, Pejabat Negara dan Penerima pensiun/tunjangan (offsite)
  56. 53 Tahun 2010: Disiplin Pegawai Negeri Sipil (offsite)
    Peraturan Kepala BKN No. 21 Tahun 2010: Ketentuan Pelaksanaan PP no. 53 Tahun 2010 tentang disiplin PNS (offsite)
  57. 40 Tahun 2010: Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 1994 Tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  58. 28 Tahun 2010: Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan PNS dan Janda/Dudanya (menggantikan PP 13 Tahun 2007, no 14 tahun 2008, dan no 9 tahun 2009)
  59. 25 Tahun 2010 (Lampiran): Perubahan ke 12 atas Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS (offsite)
  60. 17 Tahun 2010: Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan beserta penjelasannya.
  61. 63 Tahun 2009: Perubahan Atas Peraturan Pemerintah no. 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkutan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  62. 41 Tahun 2009: Tunjangan profesi guru dan dosen, tunjangan khusus guru dan dosen, serta tunjangan kehormatan Profesor.
    Pedoman pelaksanaannya menggunakan Peraturan Menteri Keuangan No.164/PMK.05/2010: Tata Cara pembayaran Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta tunjangan kehormatan professor (offsite)
  63. 38 Tahun 2009: jenis dan tarif atas jenis Penerimaan Negara bukan Pajak yang berlaku pada yayasan. (offsite).
  64. 37 Tahun 2009: Dosen (146KB pdf, 62KB doc/zip)
  65. 65 Tahun 2008: Pemberhentian PNS (offsite)
  66. 63 Tahun 2008: Pelaksanaan Undang-Undang tentang Yayasan (offsite)
  67. 48 Tahun 2008: Pendanaan Pendidikan (Penjelasannya)
  68. 38 Tahun 2008: Pengelolaan barang milik negara/daerah. (offsite)
  69. 95 Tahun 2007: Perubahan ke7 terhadap Keppres 80 Tahun 2003 (dicabut terhitung 01 Januari 2011) – offsite
  70. 43 Tahun 2007: Perubahan pertama Atas PP no. 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  71. 41 Tahun 2006: Perizinan Melakukan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing, dan Orang Asing (offsite)
  72. 39 Tahun 2007: Pengelolaan Uang Negara/Daerah (offsite)
  73. 31 Tahun 2006: Sistem Pelatihan Kerja Nasional (termasuk membahas tentang: 1. SKKNI-Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, dan 2. KKNI-Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) – offsite.
  74. 47 Tahun 2005: perubahan atas PP No. 29 Tahun 1997 tentang PNS yang menduduki jabatan rangkap (offsite)
  75. 65 Tahun 2005: Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (offsite)
  76. 48 Tahun 2005: Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  77. 47 Tahun 2005: Perubahan atas PP 29 Tahun 1997 tentang PNS yang menduduki jabatan rangkap (offsite)
  78. 31 Tahun 2005: Perubahan PP 40 Tahun 1994 Tentang Rumah Negara (offsite)
  79. 23 Tahun 2005: Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (offsite)
  80. 19 Tahun 2005: Standar Nasional Pendidikan
  81. 37 Tahun 2004: Larangan PNS menjadi anggota partai politik (offsite)
  82. 27 Tahun 2004: Tata Cara Pelaksanaan Paten oleh Pemerintah (offsite)
  83. 23 Tahun 2004: Badan Nasional Sertifikasi Profesi (offsite)
  84. 21 Tahun 2004: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga – RKAK/L
  85. 54 Tahun 2003: Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  86. 30 Tahun 2003: Pendidikan Tinggi.
  87. 19 Tahun 2003: Pengamanan rokok bagi kesehatan.
  88. 09 Tahun 2003: Wewenang pengangkatan pemindahan dan pemberhentian PNS (offsite)
  89. 13 Tahun 2002: Perubahan atas PP no. 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Struktural (offsite)
  90. 12 Tahun 2002: Perubahan PP 97 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  91. 11 Tahun 2002: Perubahan atas PP 98 Tahun 2000 tentang pengadaan PNS (offsite)
  92. 101 Tahun 2000: Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  93. 100 Tahun 2000: Pengangkatan PNS dalam Jabatan Struktural (offsite)
  94. 99 Tahun 2000: Kenaikan pangkat PNS (offsite)
  95. 98 Tahun 2000: Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  96. 97 Tahun 2000: Formasi Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  97. 29 Tahun 2000: Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (offsite)
  98. 73 Tahun 1999: Tatacara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Bersumber Dari Kegiatan Tertentu. (offsite)
  99. 61 Tahun 1999: Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum – format pdf (sudah dibatalkan PP no. 17 tahun 2010)
  100. 60 Tahun 1999: Pendidikan Tinggi
  101. 05 Tahun 1999: Pegawai Negeri Sipil Yang Menjadi Anggota Partai Politik (offsite)
  102. 29 Tahun 1997: PNS yang menduduki jabatan rangkap (offsite)
  103. 45 Tahun 1994: Pajak Penghasilan bagi Pejabat Negara, PNS, anggota ABRI, dan Pensiunan (sudah diganti dengan PP 80 Tahun 2010 )
  104. 40 Tahun 1994: Tentang Rumah Negara (offsite: 01 02 )
  105. 16 Tahun 1994: Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  106. 1 Tahun 1994: Pemberhentian PNS – (offsite)
  107. 10 Tahun 1983: izin perkawinan dan perceraian bagi PNS (offsite)
  108. 23 Tahun 1993: Tata Cara Permintaan Pendaftaran Merek (offsite)
  109. 20 Tahun 1991: Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil Secara Langsung (offsite)
  110. 45 Tahun 1990: perubahan terhadap PP 10 Tahun 1983 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi PNS (offsite)
  111. 30 Tahun 1990: Pendidikan Tinggi, lengkap dengan penjelasannya (pdf)
  112. 01 Tahun 1989: Penterjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan untuk Kepentingan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Penelitian dan Pengembangan (offsite)
  113. 05 Tahun 1987: Perlakuan terhadap Penerima Pensiun/Tunjangan yang hilang (offsite)
  114. 36 Tahun 1983: Pelaksanaan UU Pajak Penghasilan 1984 (offsite)
  115. 35 Tahun 1983: Pendaftaran, pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), penyampaian surat pemberitahuan, dan persyaratan pengajuan keberatan.
  116. 01 Tahun 1983: Perlakuan Terhadap Calon Pegawai Negeri Sipil Yang Tewas atau Cacat Akibat Kecelakaan karena Dinas. (offsite)
  117. 39 Tahun 1982: Pemberian Bantuan kepada Perguruan Tinggi Swasta. (offsite)
  118. 28 Tahun 1981: Pemberian Bantuan kepada Sekolah Swasta. (offsite)
  119. 30 Tahun 1980: peraturan displin PNS (sudah diganti dengan PP No. 53 Tahun 2010) (offsite)
  120. 32 Tahun 1979: Pemberhentian PNS (offsite)
  121. 10 Tahun 1979: Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (lengkap penjelasan dan lampiran) (offsite). Peraturan ini telah diganti oleh PP No.46 Tahun 2011.
  122. 34 Tahun 1979: Penyusutan Arsip (offsite)
  123. 7 Tahun 1977: Penetapan gaji beserta lampirannya (dapat diunduh di lokasi 1, lokasi 2)
  124. 24 Tahun 1976: Cuti Pegawai Negeri Sipil (offsite)
  125. 9 Tahun 1975: Peraturan Pelaksanaan UU 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (offsite)
  126. 6 Tahun 1974: Pembatasan Pegawai Negeri dalam usaha swasta (offsite)
  127. 4 Tahun 1966: Pemberhentian/pemberhentian sementara PNS (offsite)
  128. 58 Tahun 1954: Perubahan terhadap Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1950 tentang Universiteit Gadjah Mada (offsite)
  129. 37 Tahun 1950: Universiteit Gadjah Mada (HKTL UGM, docx)
  130. 23 Tahun 1949: Penggabungan semua perguruan tinggi di Yogyakarta menjadi Universiteit Gadjah Mada (HKTL UGM, docx)

Continue reading

By Taufiqur Rokhman Posted in Home

Proses Manufaktur


Proses Manufaktur merupakan prosedur desain yang menghasilkan perubahan fisik dan/atau kimia untuk memulai pengerjaan material dengan tujuan meningkatkan nilai material itu. Proes manufaktur biasanya dilakukan karena operasi unit, yang berarti bahwa proses manufaktur adalah langkah tunggal dalam urutan langkah yang dibutuhkan untuk mengubah material awal menjadi produk akhir. Operasi manufaktur dapat dibagi menjadi dua tipe dasar:

[1] Operasi proses

[2] Operasi Assembling (perakitan).

manufaktur bagan

Operasi proses mengubah material kerja dari satu keadaan menjadi keadaan yang lebih bernilai  yang merupakan produk akhir yang diinginkan. Operasi proses menambah nilai dengan mengubah geometri, sifat, atau penampilan dari material awal. Pada umumnya, operasi proses dilakukan pada part kerja yang berlainan, akan tetapi operasi proses tertentu juga mampu diterapkan untuk part yang di asembling. 

Operasi proses menggunakan energi untuk mengubah bentuk daripada sebuah part kerja, sifat fisik, atau tampilan untuk menambah nilai pada material. Bentuk-bentuk energi termasuk diantaranya energi mekanik, energi termal, listrik dan kimia. Energi tersebut diterapkan dengan cara yang terkontrol dengan  mesin-mesin dan tool-tool. Energi manusia dapat juga dibutuhkan, tetapi pekerja pada umumnya bekerja untuk mengontrol mesin, mengawasi operasi dan part yang terbebani maupun yang tak terbebani sebelum dan sesudah masing-masing siklus operasi. Sebuah model umum dari operasi proses diilustrasikan pada  gambar dibawah ini, 

manufaktur proses

Lebih dari satu operasi proses biasanya dibutuhkan untuk mengubah material awal menjadi bentuk akhir. Operasi tersebut dilakukan dalam urutan khusus yang dibutuhkan untuk mencapai geometri dan kondisi yang didefinisikan oleh spesifikasi desain.

Terdapat tiga kategori operasi proses:

[1] Operasi bentuk, mengubah geometri material kerja awal dengan berbagai metode. Proses-proses bentuk diantaranya adalah casting (pengecoran), forging (tempa), dan machining (permesinan, seperti bubut, frais dan drillling)

[2] Operasi meningkatkan sifat, menambah nilai pada material dengan meningkatkan sifat-sifat fisiknya tanpa mengubah bentuknya. Perlakuan panas adalah diantara contohnya.

[3] Operasi proses permukaan, dilakukan untuk membersihkan, memelihara, melindungi, atau melapisi material pada permukaan terluarnya. Diantara contoh coating (pelapisan) adalah plating dan painting (pengecatan)

Operasi Assembling menggabungkan dua atau lebih komponen untuk membuat bentuk baru yang disebut dengan  rakitan, sub rakitan atau beberapa istilah lain yang mengacu pada proses joining (penggabungan) (contoh assembling las yang disebut lasan). Komponen dari entitas baru dikoneksikan satu sama lain secara permanen atau semi permanen. Proses penggabungan permanen diantaranya adalah welding (pengelasan), brazing (pematrian), soldering (penyolderan), dan ikatan adhesif. Mereka membentuk gabungan antara komponen-komponen yang tidak dapat dengan mudah dipisahkan. 

MESIN dan TOOL PRODUKSI

Operasi manufaktur dilakukan menggunakan mesin-mesin dan tool-tool (dan manusia). Penggunaan secara luas dari mesin-mesin dalam proses manufaktur dimulai pada revolusi industri. Mesin-mesin yang digunakan pada waktu itu adalah mesin pemotong logam yang mulai dikembangkan dan digunakan secara luas. \

[Taufiqur Rokhman – 30092015 -00.08, Perumnas III, Source: Fundamental of Modern Manufacturing, 4th edition- Mikell P. Groveer]

Ta’aruf dan Silaturahmi Bersama Wali Mahasiswa 2015/2016


Kali pertama fakultas teknik Unisma Bekasi menggelar pertemuan dan silaturahmi dengan wali mahasiswa baru tahun ajaran 2015/2015. Tujuan dari diselenggarakannya acara ini tidak lain adalah agar orang tua atau wali mahasiswa lebih serius memperhatikan dan mengevaluasi pendidikan putra-putrinya sehingga tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Persoalan serius dalam pendidikan di perguruan tinggi adalah kurangnya pengawasan orang tua mahasiswa terhadap aktivitasnya di kampus dan di luar rumah karena adanya anggapan di antara sebagian mereka bahwasanya mahasiswa sudah dewasa bukan seperti siswa yang melulu harus selalu diawasi. Padahal pendidikan tidak akan mencapai cita-cita yang diharapkan manakala tidak ada sinergitas dari komponen-komponen pendidikan seperti guru, orang tua, dan mahasiswa itu sendiri. Dan dalam pendidikan formal sendiri,  masih ada komponen tambahan yang turut menyumbang kesuksesan pendidikan yaitu pemangku kebijakan. Kegiatan ini juga diantara bentuk respon semakin ketatnya peraturan-peraturan akademik yang diberlakukan oleh pemerintah mengingat tuntunan pendidikan di negeri ini semakin berkualitas dan kompetitif. 

Acara yang dihelat pada tanggal 11 September 2105 lalu dihadiri oleh sebagian besar wali mahasiswa dari enam program studi yang ada di fakultas teknik. Diawali dengan pembukaan dan sambutan wakil dekan Teknik, Taufiqur Rokhman, MT kemudian dilanjutkan sambutan dari wakil rektor I bidang akademik. Diantara poin-poin yang disampaikan wakil rektor I adalah ucapan terima kasih atas kepercayaannya menitipkan putra-putrinya di Unisma dan permohonan kepada orang tua agar tetap mengawasi dan memonitor kegiatan putra-putrinya baik di rumah maupun di luar rumah. Sebab tidak dipungkiri bahwasanya kampus islam sekalipun tidak bebas dari narkoba atau tindakan kriminalitas.

Acara inti  yang bertajuk “Ta’aruf dan silaturahmi wali mahasiswa dan civitas akademika fakultas teknik Unisma Bekasi” ini adalah penyampaian informasi penting terkait aturan-aturan dan prosedur-prosedur akademis agar orang tua dapat mengingatkan kepada putra-putrinya sekaligus mengevaluasi perkembangan pendidikannya semester demi semester. Segmen ini disampaikan langsung oleh Dekan fakultas teknik, yakni H. Sugeng, ST, MT.  

Berikut dokumentasi kegiatan:

DSC_0028

DSC_0029

DSC_0035

By Taufiqur Rokhman Posted in Teknik

Melajulah dengan Konstan


Anda mungkin pernah mengendarai kendaraan Anda di jalan yang sangat macet. Sedikit-sedikit berjalan sedikit-sedikit berhenti. Terasa, perjalanan Anda kurang mengasyikkan. Bahkan efeknya, konsumsi bahan bakar kendaraan Anda terbilang boros. Ya, memang berdasarkan studi empiris menunjukkan demikian. Berbeda apabila Anda mengendarai di jalan yang lurus dan lengang. Maka Anda dapat mengendarainya dengan laju yang konstan dan terasa nyaman. Efeknya, konsumsi bahan bakar kendaraan Anda lebih irit. 

Secara mekanis, fenomena itu dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut; kendaraan yang melaju dengan kecepatan konstan tidak membutuhkan energi penggerak mula (torsi) sebesar kendaraan yang melajunya dengan tidak konstan apalagi sedikit-sedikit berhenti sedikit-sedikit berjalan. Torsi terbesar dicapai ketika kendaraan mulai dijalankan. Disaat itulah kebutuhan kendaraan terhadap bahan bakar mencapai titik tertingginya. Oleh karenanya, ketika kita terjebak kemacetan sehingga memaksa kita mengendarai kendaraan dengan laju yang tidak konstan bahkan seringkalinya berhenti (gas-rem), maka dapat dibayangkan berapa kali torsi terbesar dicapai sehingga konsumsi bahan bakar meningkat tajam.

Hal yang lebih berat kita rasakan manakala kita hendak menjalankan kendaraan yang sudah cukup lama tidak kita hidupkan. Kendaraan tersebut sudah lama ndongkrok di garasi dan  tanpa pernah sekalipun kita memanasinya. Maka sudah bisa Anda terka betapa lamanya kendaraan tersebut untuk on alias hidup mesinnya. Dan faktanya mesinnya juga tidak akan awet apabila sering dikondisikan demikian.

 Dalam ilmu Fisika terdapat rumusan dari hukum pertama Newton tentang gerak bahwasanya ada sebuah kecenderungan pada benda untuk tetap mempertahankan keadaannya. Hal ini disebut sebagai inersia. Ketika anda sedang mendorong sebuah benda, maka benda akan bergerak. Tetapi, jika anda telah berhenti melakukan dorongan, seiring dengan itu juga benda akan melambat dan akhirnya berhenti bergerak. Artinya, untuk menjaganya tetap bergerak maka diperlukan dorongan terus menerus atau memberikan gaya. Kesimpulannya adalah benda-benda yang bergerak akan berhenti, dan dibutuhkan sebuah gaya untuk mempertahankannya supaya terus bergerak. Dalam kendaraan bermotor, energi dari sebuah gaya yang menggerakkan itulah disebut sebagai torsi.

Tak ubahnya kendaraan, aktivitas atau amal ibadah kita pun menunjukkan demikian. Apabila kita senantiasa menjaga amal ibadah kita secara kontinu tanpa menghentikan secara sengaja atau tanpa udzur syar’i maka ibadah yang kita jalankan terasa lebih ringan baik di jiwa maupun di raga. Sebaliknya, apabila kita sesekali bahkan kerapkali menghentikan amal ibadah kita dengan sengaja atau tanpa udzur syar’i maka setelahnya manakala kita hendak mengamalkan lagi, akan terasa berat di raga lebih-lebih di jiwa – Ingat!, yang menjadi pembahasan disini adalah amalan sunnah dari segi fiqh bukan fardhu atau wajib – Demikian pula, dapat Anda bayangkan betapa beratnya memulai amalan yang sudah lama ditinggalkan. 

Kita dapat mengambil contoh beberapa amalan sunnah yang mustinya kita dawamkan sehari-hari. Diantaranya, tilawah al-quran dan sholat dhuha. Bagi Anda yang tilawah al-Quran setiap hari, maka janganlah sekali-kali Anda tinggalkan walau barang se-ayat setiap harinya. Apabila Anda dapat menjaganya setiap hari hingga menjadi kebiasaan, maka amalan tersebut terasa lebih ringan dan menguatkan jiwa. Demikian pula sholat dhuha. Sholat di saat manusia tengah berada di puncak kesibukan kerja atau mencari maisyah. Sudah barang tentu menjadi amalan yang terasa berat bagi jiwa-jiwa yang tak terbiasa dengannya. Padahal apabila kita mau merenungkan, terdapat 360 sendi di dalam tubuh manusia yang dengannya manusia mampu menggerakkan seluruh anggota tubuh yang lazimnya bergerak. Semuanya menuntut kita mensyukuri nikmat yang luar biasa tersebut dengan memberikan haknya yakni bersedekah untuk setiap sendinya. Rupanya Allah dengan rahman dan rahim-Nya, memberikan solusi yang ringan dan mudah untuk mencukupi sedekah semua sendi  itu dengan dua rakaat sholat dhuha sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan masih banyak amalah-amalan sunnah lainnya yang mustinya senantiasa kita jaga setiap harinya seperti sholat berjamaah -meski sebagian ulama menghukuminya wajib-, puasa sunnah, sholat witir, sholat tahajud, sholat rawatib dan yang lainnya.

Lihatlah nenek dan kakek Anda. Usia sudah sangat senja dan raga sudah sangat renta  akan tetapi amal ibadahnya jauh di atas amalan anak-anak muda. Akhirnya mengertilah kita bahwasanya kekuatan amalan ibadah mereka bukan terletak pada raga mereka akan tetapi terletak pada ruh atau jiwa mereka. Sebab, berapa banyak pemuda dan pemudi yang raganya demikian kuat namun tak berdaya mendirikan sholat tahajud serta tak kuasa bangun dan melawan gravitasi waktu fajar untuk melangkahkan kaki-kakinya menuju masjid-masjid Allah Ta’ala memenuhi seruan-Nya. Sungguh menakjubkan sekali seorang muslim yang tidur ketika sholat fajar tetapi ia bangun untuk bekerja, ia bangun untuk mendapatkan rizqi tetapi ia tidur dari Pemberi rizqi.

Diantara indikator sebuah amalan dapat dikatakan sudah menjadi kebiasaan bahkan kebutuhan adalah manakala Anda terluput darinya Anda merasa kehilangan dan kerugian. Ketika Anda meninggalkan sholat berjamaah dengan sengaja atau tanpa udzur, lalu kemudian Anda merasa kehilangan atau kerugian, maka itu indikator bahwasanya sholat berjamaah sudah melekat di ruh Anda. Maka, jangan sia-siakan nikmat tersebut dan syukurilah. Sebab berapa banyak, orang-orang di luar sana tanpa merasa kehilangan dan enjoy saja mengabaikan panggilan adzan sholat dan tidak memenuhinya.

Disinilah pentingnya bagi kita untuk senantiasa istiqomah dalam menjalankan ketaatan kita kepada Allah. Allah menyebutkan keutamaan bagi hamba-Nya yang senantiasa istiqomah menjaga ketaatan kepada-Nya, dimana Allah berfirman (yang artinya),

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqâmah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan oleh Allâh kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Fushshilat/41:30-32)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan keutamaan istiqomah. Beliau bersabda (yang artinya):

Amal perbuatan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang kontinu dilakukan oleh pelakunya sekalipun sedikit. (HR. Ahmad No.24451)

 Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Amru dia berkata; telah menceritakan kepada kami Aban bin Yazid telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Aisyah, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan suatu sholat, beliau menekuninya. Sholat yang paling beliau sukai adalah yang paling kontinu. Aisyah meriwayatkan; “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah bosan hingga kalian bosan terhadapnya”.

Semoga Allah Tabaaroka Wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa menjaga amalan-amalan kita secara istiqomah dan memasukkan kita ke Syurga-Nya.

Nasihat Membekas


Tak jarang nasihat untuk siapapun dengan mengingatkannya kepada seseorang yang dicintai dan disayanginya lebih membekas ketimbang tanpanya.

Barangkali kita pernah membaca sebuah tulisan nasihat untuk para pengendara di jalan agar berhati hati dan tidak ngebut. diantaranya:
[1] Jangan ngebut, maut mengintai
[2] Jangan kecelakaan disini, rumah sakit masih jauh
[3] Jangan ngebut, keluarga Anda menanti di rumah.

Bagi saya, di antara ketiga nasehat atau pengingat diatas yang (paling) membekas di hati adalah nomor 3. Ya, sebab kita diingatkan kepada orang yang kita sayangi (keluarga) yang dengannya kita berharap sebuah pertemuan yg indah dan berbahagia. BUKAN pertemuan yg berujung kepada kesedihan dan nestapa.

Seketika itu, nasihat tersebut mengena dan mempengaruhi sikap kita berkendara. Lambat asal selamat, bersua dengan keluarga, penuh kebahagiaan yg hangat.

Demikian pula, tips ini terkadang saya terapkan ketika memberikan nasehat kepada mahasiswa di kampus. Saya mengingatkan mereka akan harapan orang tua serta keluarga mereka dimana kesuksesan anaknya lah yang menjadi puncak kebahagiaan orang tua. Karena itu, janganlah malas dan menunda-nunda menyelesaikan studinya.

Nasihat demikian juga selaras dengan nasihat Nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam kepada seorang pemuda yang ketika itu datang kepada Nabi dan meminta izin berzina.

Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” sahut pemuda itu.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.”

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” pemuda itu kembali menjawab.

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi – dari jalur bapakmu – dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi – dari jalur ibumu – dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina.

(HR. Ahmad)

Demikianlah nasehat yang begitu membekas, manakala diingatkan akan sosok orang yang begitu ia sayangi.

Tips Membagi Waktu Kuliah dan Beroganisasi


Bingung menentukan antara kuliah atau berorganisaasi? Dua-duanya bisa kamu jalani dengan sukses, kok. Mahasiswa yang berkualitas ialah mahasiswa yang bisa menjalankan soft skill dan hard skill secara seimbang. Pastinya kamu ingin menjadi mahasiswa yang berkualitas, bukan?
‘Kuliah’ dan ‘Organisasi’. Dua hal yang tak terpisahkan dari sisi mahasiswa. Masing-masing mahasiswa memiliki hak untuk mengikuti suatu organisasi ataupun tidak. Kuliah tanpa organisasi bagai kerupuk yang jika dimakan hanya mendapat anginnya saja. Mahasiswa hanya belajar teori di dalam kelas tanpa mampu mengaplikasikannya di dalam masyarakat. Begitu juga organisasi. Terlalu mengutamakan organisasi hingga melalaikan kuliah bagai pohon yang tidak berdaun. Kamu bisa bersosialisasi dengan siapapun, tapi tidak memiliki basic pendidikan yang terarah.
Menjadi bagian dari lingkungan baru, tentunya membuat kita harus beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Begitu juga dengan kehidupan kampus. Segala macam karakter orang terdapat dalam dunia kampus. Jati diri kamu sebagai mahasiswa akan semakin diperhitungkan.
Pengetahuan yang didapat di bangku kuliah sangat terbatas. Karenanya, kamu harus mengikuti organisasi agar bisa mendapatkan ilmu yang tidak kamu dapatkan di bangku kuliah. Cara beradaptasi di suatu lingkungan baru, akan memudahkanmu berbaur di masyarakat. Dengan berorganisasi, kita akan menjadi tahu apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, merasakan juga  apa yang mereka rasa.
Kampus merupakan tempat kamu mengembangkan diri dan berevolusi lebih baik.  Kampus juga bukan hanya sekedar tempat mencari ilmu, melainkan juga mengembangkan diri, baik di bidang akademik maupun organisasi. Dunia kerja yang semakin menuntut kita agar memilikisoft skill disamping hard skill. Hal ini semakin memacu kamu untuk berkembang lebih baik lagi. Menjadi mahasiswa yang memiliki organisasi akan menjadi nilai tambah bagi bekal masa depanmu kelak. Di saat persaingan yang semakin tinggi, kamu harus bisa menjadikan diri kamu sebagai mahasiswa yang berkualitas. Di organisasi itulah kita dapat belajar memimpin, bekerja sama dengan orang lain (secarateam), belajar tentang manajemen dan lain sebagainya. Kemampuan-kemampuan seperti itulah yang justru sangat diperlukan ketika mamasuki dunia kerja yang sebenarnya.
Agar kamu sukses dalam menjadi mahasiswa yang berkualitas, yaitu mahasiswa yang bisa ‘membagi waktu kuliah dan beroganisasi’, yuk simak tips berikut ini :

Continue reading

Evaluasi Kurikulum KKNI Jurusan Mesin


Jurusan Teknik Mesin Unisma Bekasi kembali mengadakan lokakarya kurikulum KKNI tahap dua. Lokakarya sebelumnya digelar di Bandung tahun 2013. Mengingat kurikulum yang sudah disusun masih perlu direvisi, maka setelah lokakarya KKNI yang pertama, kami merencanakan dan memutuskan untuk mengadakan lokakarya lanjutan. Alhamdulillah tanggal 6-7 Agustus 2015 lalu di Villa Sarongge Cianjur, kami dapat merealisasikan rencana itu dengan menyelenggarakan lokakarya kurikulum KKNI lanjutan dengan lancar dan tertib. 

Kami masih merencanakan pertemuan lanjutan meskipun diselenggarakan di lingkungan kampus untuk mematangkan dan menyempurnakan kurikulum KKNI sebelum benar-benar diimplemantasikan pada semester yang akan datang. Inti dari kurikulum ini adalah pada dasarnya menyesuaikan kompetensi lulusan dengan merujuk kepada diskripsi kompetensi yang telah dirumuskan pemerintah yang terdiri dari 9 level dimana masing-masing level itu disesuaikan dengan strata studi yang diambil dan ditempuh mahasiswa.

Sebagai contoh, untuk strata diploma tiga kompetensi luaran atau yang di KKNI dikenal dengan Learning Outcome (LO) harus merujuk kepada diskripsi level 5 dari pemerintah. Dengan demikian, diharapkan tamatan diploma 3  memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang distandarkan oleh pemerintah, tidak dibawahnya atau diatasnya.

Berikut foto-foto aktivitas penyusunan kurikulum KKNI tahap dua:

IMG_20150806_194218

IMG-20150807-WA0005

IMG_20150806_195722

IMG-20150807-WA0008

By Taufiqur Rokhman Posted in Teknik

Beda Bayi Laki-laki dan Perempuan


Di dalam mata pelajaran agama bab fiqh di bangku sekolah dasar pernah kita diajarkan tiga macam najis ditinjau dari derajad najisnya itu sendiri. Ada najis berat yang disebut dengan najis mugholadoh, ada najis menengah yang dikenal dengan najis mutawasithoh dan najis ringan atau mukhofafah. Dalam postingan kali ini, saya hanya naji sbayimenguraikan sedikit tentang najis mukhofafah. Najis mukhofafah disebut juga najis ringan karena untuk mensucikannya adalah ringan. Yaitu, cukup dengan memercikkan air pada permukaan kain yang terkena najis. Maka kemudian kain tersebut dapat dipakai untuk sholat.

Adapun contohnya Anda pun mungkin dapat menyebutkan secara spontan tanpa harus mengingat-ngingat. Iya benar, najis mukhofafah contohnya adalah najisnya kencing bayi laki-laki yang belum makan atau minum apa-apa selain ASI.  Adapun najisnya kencing bayi perempuan sudah masuk kategori najis menengah atau mutawasithoh sebab cara mensucikannya tidak cukup dengan memercikkan air pada permukaan kain yang terkena najis akan tetapi harus diguyur dan dicuci dengan air hingga bersih dan suci. 

Nah, pernahkan Anda bertanya-tanya apa hikmah atau rahasia dibalik pembedaan jenis najis dan cara pensuciannya? Padahal kalau kita amati, tidak ada pembedaan dalam perlakuan terhadap bayi laki-laki dan bayi perempuan baik dalam makanannya, mandinya dan pemeliharaan yang lain. Lantas kenapa syariat islam membedakan derajad kedua najis tersebut dan cara mensucikannya?

Kendatipun banyak diantara syariat islam yang sudah diungkap rahasia dan hikmahnya oleh para ilmuwan atau ulama akan tetapi yang belum terungkap hingga saat ini jauh lebih banyak. Meski demikian, bukan tugas dan kewajiban bagi manusia untuk menyingkap tabir rahasia dan hikmah diturunkannya syariat-syariat islam. Kewajiban manusia sebagai seorang hamba tidak lain adalah ubudiyah (beribadah) untuk Allah Robbul ‘aalamiin. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Adzaariyat:56 (artinya), “Dan tidaklah aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.

Karenanya seorang hamba yang beriman, terhadap syariat yang datang kepada-nya BUKAN menganalisa dulu hingga sampai menemukan hikmahnya akan tetapi cukup mengatakan sami’na wa atho’na. Mereka tidak disuruh untuk menganalisa setiap syariat yang datang kepada mereka, karena Allah sang pemberi syariat tidak menurunkan syariat bagi para hamba-Nya kecuali di dalamnya mengandung maslahat dan hikmah yang sangat besar. Semuanya sudah ada grand design nya.

Namun adakalanya hikmah dari sebuah syariat sengaja Allah singkapkan melalui wali-nya atau para ilmuwan agar manusia sadar akan kelemahan dirinya dan sadar akan keagungan Robb Semesta alam yang dengannya manusia semakin tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya.

Diantara hikmah yang disingkap oleh para ulama dan ilmuwan meski masing-masing diantara mereka saling berbeda pendapat tentang sebab yang mewajibkan pembedaan antara najis kencing bayi laki-laki dan perempuan. Masing-masing  diantara mereka mencoba mencari hikmah sesuai dengan pandangannya. Yang paling bagus  dari pencarian ini ialah salah satu dari dua hal sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam dalam kitabnya Syarah Umdatul Ahkam penerbit Darul Falah hal:65:

[1] Anak laki-laki secara naluri mempunyai suhu badan yang lebih tinggi (panas) dibandingkan anak perempuan. Dengan suhu badan yang lebih tinggi ini, makanan anak laki-laki menjadi lembut, karena ia berupa air susu ibu. Sementara anak perempuan tidak memiliki suhu badan yang lebih tinggi. Hal ini menegaskan pembatasan kematangan najis meski tidak mengkonsumsi makanan selain air susu ibu.

[2] Biasanya anak laki-laki disukai  orang-orang dari pada bayi perempuan, sehingga dia lebih banyak diajak dan digendong, yang berarti melibatkan nasjisnya, sehingga bisa menimbulkan kesulitan. Karena itulah ditetapkan keringanan karena najisnya. Hal ini dikuatkan dengan toleransi dan kemudahan syariat. Dalam kaidah yang bersifat umum dinyatakan, “kesulitan itu mendatangkan kemudahan. ” (selesai kutipan)

Ya, kalau kita perhatikan memang begitulah bayi laki-laki. setiap orang yang melihatnya berasa pingin menggendongnya karena nggemesinnya itu. Bahkan cara menggendong bayi laki-laki dan perempuan kerap kali berbeda. Taukah Anda bedanya? Meski tidak semuanya, bayi laki-laki lebih banyak digendong dengan teknik penggendongan yang lebih variatif. Ada yang digendong biasa (disisi badan penggendong), ada yang di depan di depan badan penggendong, ada yang di belakang alias dipunggung, dan teknik penggendongan yang disebutkan terakhir ini yang sangat sedikit diterapkan kepada bayi perempuan. Tidak percaya? Apa itu? menggendong bayi diatas bahu sebelah kiri atau kanan atau diantaranya yakni diatas kepala dengan posisi kedua kaki bayi di depan dada penggendong. Rasa-rasanya, kok ngga pantas bayi perempuan digendong dengan posisi diatas bahu penggendong sebagaimana bayi laki-laki. Iya apa iya? 

Barangkali itulah sebabnya karakter laki-laki cenderung lebih pecicilan dibandingkan perempuan. Sehingga ngga aneh apabila sekarang ada julukan “jagoan” untuk bayi laki-laki. Lalu apa julukan bagi bayi perempuan yang sudah populer di kalangan manusia atau jin? Yang tahu silakan jawab di komentar. :)

[Taufiqur Rokhman – Perumnas III – 05082015 – 22.45]

BPJS


Fatwa haram tentang BPJS yang baru-baru ini dikeluarkan oleh MUI mengundang kontroversi yang cukup hebat. Lebih-lebih di dunia maya, netizen berdebat keras hingga tak sedikit saling mengumpat dan menghujat. Hal ini juga tidak terlepas dari ulah media yang memprovokasi dengan judul-judul yang provokatif. 

Setidaknya dua media yang berseliweran di beranda fb saya yang memposting berita tentang BPJS dengan judul yang sangat provokatif.  Pertama, berita yang diposting oleh m*rde*a.com dengan tajuk “BPJS itu kan niatnya mau nolong, masa dilarang”?

Lihat, betapa ‘cerdasnya’ (baca: licik) media mengobok-obok netizen. Bagaimana tidak ngamuk netizen-netizen ababil itu membaca judul postingan itu? Seakan-akan media tersebut mengesankan bahwasanya MUI melarang-larang sesuatu yang sangat bermanfaat dan menolong banyak rakyat Indonesia. Padahal kenyatannya MUI tidaklah memfatwakan haram (yang ternyata dianulir oleh MUI, bahasa yang lebih tepat belum sesuai syariat) kecuali sekaligus menawarkan solusinya.

Sesaat setelah berita itu dirilis, kontan berhamburan komentator meramaikan postingan tersebut. Tak sedikit diantara mereka yang saling umpat dan saling hujat. Padahal mungkin sebegian besar diantara mereka belum tau persis esensi beritanya. Kedua, berita dengan judul “BPJS haram, penggunanya masuk neraka” yang dirilis oleh trib*n.com juga tak kalah hebatnya pertarungannya. Yaa, secara esensi judul itu memang tidak salah. Orang yang mengkonsumsi suatu hal yang haram maka terancam neraka. Namun akan menjadi salah manakala mengesankan bahwasanya MUI memvonis neraka bagi pengguna BPJS. MUI tidak lain menjalankan tugasnya sebagaimana amanah yang diberikan kepadanya untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam menyikapi berbagai perkara yang rakyat hadapi. 

Begitulah potret kehidupan netizen saat ini. Bagaimana reaksi sebagian besar masyarakat atas berbagai problem-problem polemik yang mengemuka di lapangan. Kalau boleh diibaratkan, masyarakat kita ini seperti jerami kering di bawah terik matahari yang diikat jadi satu kemudian diperciki sedikit api dan seketika api membesar melahab habis semuanya tak tersisa. Masyarakat cenderung reaktif menghadapi dan menyikapi berita-berita yang dianggap kontroversial.

Kenyataannya sebagaimana di paragraf sebelumnya, MUI meninjau dan menyoroti beberapa hal dalam BPJS yang BELUM sesuai syariat dan sekaligus menawarkan solusinya. Bukankah ini yang diharapkan kita semua? Lalu mengapa kita tanpa berfikir panjang menghujat MUI dan mengamini postingan dari admin media majhul yang tak lain hanyalah sampah yang sengaja mencemari semua orang yang bergumul di dalamnya agar saling hujat dan saling maki?

Lagi pula siapakah para komentator itu jika dibandingkan  dengan yang di duduk di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apa kapasitas mereka? ulamakah? mujtahidkah? Mungkinkah para komentator itu tidak tau apa itu MUI dan apa maksud dan tujuan didirikannya MUI, sehingga mereka dengan tanpa merasa berdosa dan  tak tanggung-tanggung menyudutkan dan menghujat MUI dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

MUI bukanlah individu yang berijtihad sendiri dan memfatwakan hukum atas berbagai perkara. MUI adalah majelis (perhimpunan) dari para ulama-ulama yang berkompeten di bidangnya (ilmu dinniyah) yang dimana maksud dan tujuan dibentuknya adalah untuk mengarahkan dan membimbing masyarakat menyikapi perkara-perkara kontemporer yang baru muncul belakangan hari.  Dengannya, masyarakat punya pegangan ketika melangkah dan menjalani hidup. Bukankah setiap orang yang mengaku beragama, melangkah dan menjalani  setiap periode kehidupan mereka dengan dasar agama? 

Beragama itu bukan atas dasar perasaan dan akal logika semata, mas mbak. Beragama itu semuanya membutuhkan dalil. Islam menjadi sempurna dan paripurna setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Tidak tersisa sedikitpun apa-apa yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan ke neraka kecuali semuanya telah dijelaskan (al hadits). Bahkan tata cara buang air pun sudah diatur dalam agama. Lalu bagaimana dengan perkara yang lebih besar dan lebih urgent dari itu? 

Pertanyaannya sekarang, kepada siapa ketika kita hendak menanyakan hukum suatu perkara, kaifiyatnya (tata caranya) kalau bukan kepada ulama? Akankah kita mencerna dan memahami setiap perkara dengan akal pikiran dan perasaan sendiri lalu menghukumi sendiri? Bagaimana apabila kenyataanya di mata Allah justru pendapat kita menyelisihi pendapat Ijma (konsensus) ulama? Tidak takutkah kita bila ternyata penyelisihan kita terhadap pendapat ijma ulama didasari atas dasar hawa nafsu?

Makanya, jangan tertipu dengan apapun yang kita gunakan lantaran manfaatnya sampai benar-benar memastikan 100% nya halal. Tidakkah perkara haram ada meskipun sedikit kecuali di dalamnya ada mudharat sehingga musti dihindari. Apa yang kita pandang baik belum tentu baik di mata Allah dan sebaliknya apa-apa yang kita pandang buruk boleh jadi baik dalam pandangan Allah. Karenanya, ketika kita berpedoman pada dalil baik dalam nash alquran maupun hadits dalam menimbang sesuatu tentunya atas bimbingan ulama, maka kita akan selamat. Nas’alullah salamatan al ‘aafiyat..

Jejak Sunnah yang Diikuti


Membaca postingan yang berisi daftar nama-nama masjid yg memfasilitasi i’tikaf bagi kaum muslimin yg hendak i’tikaf, jadi teringat salah satu mushola dijejak sunnah kampung kami yang tidak memfasilitasi i’tikaf. Artinya setelah tarawih, mushola terkunci rapat. Teringat pula kakak ipar yg ketika itu berinisiatif ngadain i’tikaf sendiri di mushola itu. Mungkin dengannya berharap akan diikuti oleh yg lainnya. Entah apakah sekarang mushola itu mulai memfasilitasi dan menggerakkan para jamaah untuk i’tikaf?

Nah hal seperti itu sebenarnya peluang amal jariah bagi siapapun yang merintis sebuah amalan sunnah yg sebelumnya belum pernah sekalipun orang mengamalkannya. Artinya mereka-mereka yg merintis amalan sunnah yg belum pernah dikerjakan siapapun juga di daerah tersebut kemudian diikuti oleh selainnya maka mereka akan mendapat pahala yg sama sebanyak orang yg mengikutinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016)

Saya berharap moga-moga hal yg sama telah ayahanda dapatkan lantaran pernah merintis atau memulai sholat tahiyatul masjid menjelang iqomah sholat maghrib dan moga-moga ini menjadi cahaya penerang dalam pusaranya.

Teringat saat itu, muadzin di masjid kami biasanya langsung mengumandangkan iqomah sesaat setelah adzan maghrib. Suatu ketika, beberapa menit menjelang iqomah, bapak saya datang dan langsung mendirikan sholat dua rokaat. Melihat Bapak sholat, sang muadzin pun akhirnya menunggu hingga selesainya sholat bapak dan baru kemudian mengumandangkan iqomah.

Selepas sholat maghrib, terjadi dialog antara bapak dan salah seorang pengurus atau ketua (saya lupa). Inti dialognya adalah DKM menanyakan sholat qobliyah yg bapak tunaikan dimana mereka menganggap bahwasanya sholat qobliyah maghrib adalah ghoiru muakad (tidak dikuatkan). Lalu bapak bilang, “kan tidak musti sholat qobliyah, sholat tahiyatul masjid pun bisa dikerjakan, sambil menunggu jamaah lain”. Sejak saat itu (mungkin hingga sekarang), para jamaah melazimi sholat tahiyatul masjid.

Diantara amalan baik (sunnah) juga yg barangkali tidak banyak atau bahkan tidak ada orang yg mengerjakannya adalah memberi makan orang gila. Yang dilakukan sebagian (besar) kita ketika melihat orang gila adalah berlalu pergi meninggalkannnya. Andaikan setiap orang melakukan hal sama, itu artinya membiarkan orang gila tersebut memakan kotorannya sendiri atau mengais sesuatu yg bisa dimakan di tempat-tempat sampah. Apabila kita memberi makan mereka, lalu kemudian diikuti oleh orang lain yg melihatnya, maka kita mendapatkan ganjaran yg sama. Insyaa Allah.

Penurunan Rumus Regresi Linier


Dalam postingan sebelumnya (sudah lampau), pernah saya memposting dua artikel tentang regresi yakni regresi linier sederhana dan regresi linier berganda. Semuanya dilakukan dengan bantuan excel. Namun pada postingan kali ini, saya justru flash back ke belakang. Yakni, menurunkan rumus regresi sederhana dan insya Allah ke depan menyusul lanjutannya yang lebih komprehensif (regresi ekponensial, polinomial orde dua, tiga dan tinggi).

Formula dari model matematika dari berbagai sistem fisik adalah langkah dasar  dalam proses evaluasinya. Sayangnya, formulasi seperti itu menjadi terlalu kompleks. Konsekuensinya, hubungan fungsi empiris sering dikembangkan untuk menggambarkan perilaku sistem menggunakan data eksperimen.

Dalam fitting (pencocokan) data dengan fungsi yang diaproksimasi, terdapat dua pendekatan dasar. Pendekatan pertama melibatkan fungsi yang diasumsikan (biasanya polinomial) melalui setiap titik data. 

Metode Least Square (Kuadrat Terkecil)

Metode evaluasi formula empiris ini dikembangkan lebih dari satu abad yang lalu dan telah digunakan selama bertahun-tahun. Seperti metode Spline Cubic, metode Least Square berusaha untuk mencocokkan  fungsi sederhana melalui sehimpunan titik data tanpa masalah penyimpangan jauh terhadap polinomial orde tinggi. (Amir Wadi adn John R. Tooley)

E1 adalah deviasi atau penyimpangan antara titik data dengan kurva yang mencocoki. Terkadang dalam buku-buku lain dinotasikan dengan “d”

4c

(linier 1

linier 2
linier 3
linier 4a

atau (f=y):

4b

[Taufiqur Rokhman, Unisma Bekasi – 10062015 – 04.00 PM]

By Taufiqur Rokhman Posted in Home