Tips Membagi Waktu Kuliah dan Beroganisasi


Bingung menentukan antara kuliah atau berorganisaasi? Dua-duanya bisa kamu jalani dengan sukses, kok. Mahasiswa yang berkualitas ialah mahasiswa yang bisa menjalankan soft skill dan hard skill secara seimbang. Pastinya kamu ingin menjadi mahasiswa yang berkualitas, bukan?
‘Kuliah’ dan ‘Organisasi’. Dua hal yang tak terpisahkan dari sisi mahasiswa. Masing-masing mahasiswa memiliki hak untuk mengikuti suatu organisasi ataupun tidak. Kuliah tanpa organisasi bagai kerupuk yang jika dimakan hanya mendapat anginnya saja. Mahasiswa hanya belajar teori di dalam kelas tanpa mampu mengaplikasikannya di dalam masyarakat. Begitu juga organisasi. Terlalu mengutamakan organisasi hingga melalaikan kuliah bagai pohon yang tidak berdaun. Kamu bisa bersosialisasi dengan siapapun, tapi tidak memiliki basic pendidikan yang terarah.
Menjadi bagian dari lingkungan baru, tentunya membuat kita harus beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Begitu juga dengan kehidupan kampus. Segala macam karakter orang terdapat dalam dunia kampus. Jati diri kamu sebagai mahasiswa akan semakin diperhitungkan.
Pengetahuan yang didapat di bangku kuliah sangat terbatas. Karenanya, kamu harus mengikuti organisasi agar bisa mendapatkan ilmu yang tidak kamu dapatkan di bangku kuliah. Cara beradaptasi di suatu lingkungan baru, akan memudahkanmu berbaur di masyarakat. Dengan berorganisasi, kita akan menjadi tahu apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, merasakan juga  apa yang mereka rasa.
Kampus merupakan tempat kamu mengembangkan diri dan berevolusi lebih baik.  Kampus juga bukan hanya sekedar tempat mencari ilmu, melainkan juga mengembangkan diri, baik di bidang akademik maupun organisasi. Dunia kerja yang semakin menuntut kita agar memilikisoft skill disamping hard skill. Hal ini semakin memacu kamu untuk berkembang lebih baik lagi. Menjadi mahasiswa yang memiliki organisasi akan menjadi nilai tambah bagi bekal masa depanmu kelak. Di saat persaingan yang semakin tinggi, kamu harus bisa menjadikan diri kamu sebagai mahasiswa yang berkualitas. Di organisasi itulah kita dapat belajar memimpin, bekerja sama dengan orang lain (secarateam), belajar tentang manajemen dan lain sebagainya. Kemampuan-kemampuan seperti itulah yang justru sangat diperlukan ketika mamasuki dunia kerja yang sebenarnya.
Agar kamu sukses dalam menjadi mahasiswa yang berkualitas, yaitu mahasiswa yang bisa ‘membagi waktu kuliah dan beroganisasi’, yuk simak tips berikut ini :

Continue reading

Evaluasi Kurikulum KKNI Jurusan Mesin


Jurusan Teknik Mesin Unisma Bekasi kembali mengadakan lokakarya kurikulum KKNI tahap dua. Lokakarya sebelumnya digelar di Bandung tahun 2013. Mengingat kurikulum yang sudah disusun masih perlu direvisi, maka setelah lokakarya KKNI yang pertama, kami merencanakan dan memutuskan untuk mengadakan lokakarya lanjutan. Alhamdulillah tanggal 6-7 Agustus 2015 lalu di Villa Sarongge Cianjur, kami dapat merealisasikan rencana itu dengan menyelenggarakan lokakarya kurikulum KKNI lanjutan dengan lancar dan tertib. 

Kami masih merencanakan pertemuan lanjutan meskipun diselenggarakan di lingkungan kampus untuk mematangkan dan menyempurnakan kurikulum KKNI sebelum benar-benar diimplemantasikan pada semester yang akan datang. Inti dari kurikulum ini adalah pada dasarnya menyesuaikan kompetensi lulusan dengan merujuk kepada diskripsi kompetensi yang telah dirumuskan pemerintah yang terdiri dari 9 level dimana masing-masing level itu disesuaikan dengan strata studi yang diambil dan ditempuh mahasiswa.

Sebagai contoh, untuk strata diploma tiga kompetensi luaran atau yang di KKNI dikenal dengan Learning Outcome (LO) harus merujuk kepada diskripsi level 5 dari pemerintah. Dengan demikian, diharapkan tamatan diploma 3  memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang distandarkan oleh pemerintah, tidak dibawahnya atau diatasnya.

Berikut foto-foto aktivitas penyusunan kurikulum KKNI tahap dua:

IMG_20150806_194218

IMG-20150807-WA0005

IMG_20150806_195722

IMG-20150807-WA0008

By Taufiqur Rokhman Posted in Teknik

Beda Bayi Laki-laki dan Perempuan


Di dalam mata pelajaran agama bab fiqh di bangku sekolah dasar pernah kita diajarkan tiga macam najis ditinjau dari derajad najisnya itu sendiri. Ada najis berat yang disebut dengan najis mugholadoh, ada najis menengah yang dikenal dengan najis mutawasithoh dan najis ringan atau mukhofafah. Dalam postingan kali ini, saya hanya naji sbayimenguraikan sedikit tentang najis mukhofafah. Najis mukhofafah disebut juga najis ringan karena untuk mensucikannya adalah ringan. Yaitu, cukup dengan memercikkan air pada permukaan kain yang terkena najis. Maka kemudian kain tersebut dapat dipakai untuk sholat.

Adapun contohnya Anda pun mungkin dapat menyebutkan secara spontan tanpa harus mengingat-ngingat. Iya benar, najis mukhofafah contohnya adalah najisnya kencing bayi laki-laki yang belum makan atau minum apa-apa selain ASI.  Adapun najisnya kencing bayi perempuan sudah masuk kategori najis menengah atau mutawasithoh sebab cara mensucikannya tidak cukup dengan memercikkan air pada permukaan kain yang terkena najis akan tetapi harus diguyur dan dicuci dengan air hingga bersih dan suci. 

Nah, pernahkan Anda bertanya-tanya apa hikmah atau rahasia dibalik pembedaan jenis najis dan cara pensuciannya? Padahal kalau kita amati, tidak ada pembedaan dalam perlakuan terhadap bayi laki-laki dan bayi perempuan baik dalam makanannya, mandinya dan pemeliharaan yang lain. Lantas kenapa syariat islam membedakan derajad kedua najis tersebut dan cara mensucikannya?

Kendatipun banyak diantara syariat islam yang sudah diungkap rahasia dan hikmahnya oleh para ilmuwan atau ulama akan tetapi yang belum terungkap hingga saat ini jauh lebih banyak. Meski demikian, bukan tugas dan kewajiban bagi manusia untuk menyingkap tabir rahasia dan hikmah diturunkannya syariat-syariat islam. Kewajiban manusia sebagai seorang hamba tidak lain adalah ubudiyah (beribadah) untuk Allah Robbul ‘aalamiin. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Adzaariyat:56 (artinya), “Dan tidaklah aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.

Karenanya seorang hamba yang beriman, terhadap syariat yang datang kepada-nya BUKAN menganalisa dulu hingga sampai menemukan hikmahnya akan tetapi cukup mengatakan sami’na wa atho’na. Mereka tidak disuruh untuk menganalisa setiap syariat yang datang kepada mereka, karena Allah sang pemberi syariat tidak menurunkan syariat bagi para hamba-Nya kecuali di dalamnya mengandung maslahat dan hikmah yang sangat besar. Semuanya sudah ada grand design nya.

Namun adakalanya hikmah dari sebuah syariat sengaja Allah singkapkan melalui wali-nya atau para ilmuwan agar manusia sadar akan kelemahan dirinya dan sadar akan keagungan Robb Semesta alam yang dengannya manusia semakin tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya.

Diantara hikmah yang disingkap oleh para ulama dan ilmuwan meski masing-masing diantara mereka saling berbeda pendapat tentang sebab yang mewajibkan pembedaan antara najis kencing bayi laki-laki dan perempuan. Masing-masing  diantara mereka mencoba mencari hikmah sesuai dengan pandangannya. Yang paling bagus  dari pencarian ini ialah salah satu dari dua hal sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam dalam kitabnya Syarah Umdatul Ahkam penerbit Darul Falah hal:65:

[1] Anak laki-laki secara naluri mempunyai suhu badan yang lebih tinggi (panas) dibandingkan anak perempuan. Dengan suhu badan yang lebih tinggi ini, makanan anak laki-laki menjadi lembut, karena ia berupa air susu ibu. Sementara anak perempuan tidak memiliki suhu badan yang lebih tinggi. Hal ini menegaskan pembatasan kematangan najis meski tidak mengkonsumsi makanan selain air susu ibu.

[2] Biasanya anak laki-laki disukai  orang-orang dari pada bayi perempuan, sehingga dia lebih banyak diajak dan digendong, yang berarti melibatkan nasjisnya, sehingga bisa menimbulkan kesulitan. Karena itulah ditetapkan keringanan karena najisnya. Hal ini dikuatkan dengan toleransi dan kemudahan syariat. Dalam kaidah yang bersifat umum dinyatakan, “kesulitan itu mendatangkan kemudahan. ” (selesai kutipan)

Ya, kalau kita perhatikan memang begitulah bayi laki-laki. setiap orang yang melihatnya berasa pingin menggendongnya karena nggemesinnya itu. Bahkan cara menggendong bayi laki-laki dan perempuan kerap kali berbeda. Taukah Anda bedanya? Meski tidak semuanya, bayi laki-laki lebih banyak digendong dengan teknik penggendongan yang lebih variatif. Ada yang digendong biasa (disisi badan penggendong), ada yang di depan di depan badan penggendong, ada yang di belakang alias dipunggung, dan teknik penggendongan yang disebutkan terakhir ini yang sangat sedikit diterapkan kepada bayi perempuan. Tidak percaya? Apa itu? menggendong bayi diatas bahu sebelah kiri atau kanan atau diantaranya yakni diatas kepala dengan posisi kedua kaki bayi di depan dada penggendong. Rasa-rasanya, kok ngga pantas bayi perempuan digendong dengan posisi diatas bahu penggendong sebagaimana bayi laki-laki. Iya apa iya? 

Barangkali itulah sebabnya karakter laki-laki cenderung lebih pecicilan dibandingkan perempuan. Sehingga ngga aneh apabila sekarang ada julukan “jagoan” untuk bayi laki-laki. Lalu apa julukan bagi bayi perempuan yang sudah populer di kalangan manusia atau jin? Yang tahu silakan jawab di komentar. :)

[Taufiqur Rokhman – Perumnas III – 05082015 – 22.45]

BPJS


Fatwa haram tentang BPJS yang baru-baru ini dikeluarkan oleh MUI mengundang kontroversi yang cukup hebat. Lebih-lebih di dunia maya, netizen berdebat keras hingga tak sedikit saling mengumpat dan menghujat. Hal ini juga tidak terlepas dari ulah media yang memprovokasi dengan judul-judul yang provokatif. 

Setidaknya dua media yang berseliweran di beranda fb saya yang memposting berita tentang BPJS dengan judul yang sangat provokatif.  Pertama, berita yang diposting oleh m*rde*a.com dengan tajuk “BPJS itu kan niatnya mau nolong, masa dilarang”?

Lihat, betapa ‘cerdasnya’ (baca: licik) media mengobok-obok netizen. Bagaimana tidak ngamuk netizen-netizen ababil itu membaca judul postingan itu? Seakan-akan media tersebut mengesankan bahwasanya MUI melarang-larang sesuatu yang sangat bermanfaat dan menolong banyak rakyat Indonesia. Padahal kenyatannya MUI tidaklah memfatwakan haram (yang ternyata dianulir oleh MUI, bahasa yang lebih tepat belum sesuai syariat) kecuali sekaligus menawarkan solusinya.

Sesaat setelah berita itu dirilis, kontan berhamburan komentator meramaikan postingan tersebut. Tak sedikit diantara mereka yang saling umpat dan saling hujat. Padahal mungkin sebegian besar diantara mereka belum tau persis esensi beritanya. Kedua, berita dengan judul “BPJS haram, penggunanya masuk neraka” yang dirilis oleh trib*n.com juga tak kalah hebatnya pertarungannya. Yaa, secara esensi judul itu memang tidak salah. Orang yang mengkonsumsi suatu hal yang haram maka terancam neraka. Namun akan menjadi salah manakala mengesankan bahwasanya MUI memvonis neraka bagi pengguna BPJS. MUI tidak lain menjalankan tugasnya sebagaimana amanah yang diberikan kepadanya untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam menyikapi berbagai perkara yang rakyat hadapi. 

Begitulah potret kehidupan netizen saat ini. Bagaimana reaksi sebagian besar masyarakat atas berbagai problem-problem polemik yang mengemuka di lapangan. Kalau boleh diibaratkan, masyarakat kita ini seperti jerami kering di bawah terik matahari yang diikat jadi satu kemudian diperciki sedikit api dan seketika api membesar melahab habis semuanya tak tersisa. Masyarakat cenderung reaktif menghadapi dan menyikapi berita-berita yang dianggap kontroversial.

Kenyataannya sebagaimana di paragraf sebelumnya, MUI meninjau dan menyoroti beberapa hal dalam BPJS yang BELUM sesuai syariat dan sekaligus menawarkan solusinya. Bukankah ini yang diharapkan kita semua? Lalu mengapa kita tanpa berfikir panjang menghujat MUI dan mengamini postingan dari admin media majhul yang tak lain hanyalah sampah yang sengaja mencemari semua orang yang bergumul di dalamnya agar saling hujat dan saling maki?

Lagi pula siapakah para komentator itu jika dibandingkan  dengan yang di duduk di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apa kapasitas mereka? ulamakah? mujtahidkah? Mungkinkah para komentator itu tidak tau apa itu MUI dan apa maksud dan tujuan didirikannya MUI, sehingga mereka dengan tanpa merasa berdosa dan  tak tanggung-tanggung menyudutkan dan menghujat MUI dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

MUI bukanlah individu yang berijtihad sendiri dan memfatwakan hukum atas berbagai perkara. MUI adalah majelis (perhimpunan) dari para ulama-ulama yang berkompeten di bidangnya (ilmu dinniyah) yang dimana maksud dan tujuan dibentuknya adalah untuk mengarahkan dan membimbing masyarakat menyikapi perkara-perkara kontemporer yang baru muncul belakangan hari.  Dengannya, masyarakat punya pegangan ketika melangkah dan menjalani hidup. Bukankah setiap orang yang mengaku beragama, melangkah dan menjalani  setiap periode kehidupan mereka dengan dasar agama? 

Beragama itu bukan atas dasar perasaan dan akal logika semata, mas mbak. Beragama itu semuanya membutuhkan dalil. Islam menjadi sempurna dan paripurna setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Tidak tersisa sedikitpun apa-apa yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan ke neraka kecuali semuanya telah dijelaskan (al hadits). Bahkan tata cara buang air pun sudah diatur dalam agama. Lalu bagaimana dengan perkara yang lebih besar dan lebih urgent dari itu? 

Pertanyaannya sekarang, kepada siapa ketika kita hendak menanyakan hukum suatu perkara, kaifiyatnya (tata caranya) kalau bukan kepada ulama? Akankah kita mencerna dan memahami setiap perkara dengan akal pikiran dan perasaan sendiri lalu menghukumi sendiri? Bagaimana apabila kenyataanya di mata Allah justru pendapat kita menyelisihi pendapat Ijma (konsensus) ulama? Tidak takutkah kita bila ternyata penyelisihan kita terhadap pendapat ijma ulama didasari atas dasar hawa nafsu?

Makanya, jangan tertipu dengan apapun yang kita gunakan lantaran manfaatnya sampai benar-benar memastikan 100% nya halal. Tidakkah perkara haram ada meskipun sedikit kecuali di dalamnya ada mudharat sehingga musti dihindari. Apa yang kita pandang baik belum tentu baik di mata Allah dan sebaliknya apa-apa yang kita pandang buruk boleh jadi baik dalam pandangan Allah. Karenanya, ketika kita berpedoman pada dalil baik dalam nash alquran maupun hadits dalam menimbang sesuatu tentunya atas bimbingan ulama, maka kita akan selamat. Nas’alullah salamatan al ‘aafiyat..

Jejak Sunnah yang Diikuti


Membaca postingan yang berisi daftar nama-nama masjid yg memfasilitasi i’tikaf bagi kaum muslimin yg hendak i’tikaf, jadi teringat salah satu mushola dijejak sunnah kampung kami yang tidak memfasilitasi i’tikaf. Artinya setelah tarawih, mushola terkunci rapat. Teringat pula kakak ipar yg ketika itu berinisiatif ngadain i’tikaf sendiri di mushola itu. Mungkin dengannya berharap akan diikuti oleh yg lainnya. Entah apakah sekarang mushola itu mulai memfasilitasi dan menggerakkan para jamaah untuk i’tikaf?

Nah hal seperti itu sebenarnya peluang amal jariah bagi siapapun yang merintis sebuah amalan sunnah yg sebelumnya belum pernah sekalipun orang mengamalkannya. Artinya mereka-mereka yg merintis amalan sunnah yg belum pernah dikerjakan siapapun juga di daerah tersebut kemudian diikuti oleh selainnya maka mereka akan mendapat pahala yg sama sebanyak orang yg mengikutinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016)

Saya berharap moga-moga hal yg sama telah ayahanda dapatkan lantaran pernah merintis atau memulai sholat tahiyatul masjid menjelang iqomah sholat maghrib dan moga-moga ini menjadi cahaya penerang dalam pusaranya.

Teringat saat itu, muadzin di masjid kami biasanya langsung mengumandangkan iqomah sesaat setelah adzan maghrib. Suatu ketika, beberapa menit menjelang iqomah, bapak saya datang dan langsung mendirikan sholat dua rokaat. Melihat Bapak sholat, sang muadzin pun akhirnya menunggu hingga selesainya sholat bapak dan baru kemudian mengumandangkan iqomah.

Selepas sholat maghrib, terjadi dialog antara bapak dan salah seorang pengurus atau ketua (saya lupa). Inti dialognya adalah DKM menanyakan sholat qobliyah yg bapak tunaikan dimana mereka menganggap bahwasanya sholat qobliyah maghrib adalah ghoiru muakad (tidak dikuatkan). Lalu bapak bilang, “kan tidak musti sholat qobliyah, sholat tahiyatul masjid pun bisa dikerjakan, sambil menunggu jamaah lain”. Sejak saat itu (mungkin hingga sekarang), para jamaah melazimi sholat tahiyatul masjid.

Diantara amalan baik (sunnah) juga yg barangkali tidak banyak atau bahkan tidak ada orang yg mengerjakannya adalah memberi makan orang gila. Yang dilakukan sebagian (besar) kita ketika melihat orang gila adalah berlalu pergi meninggalkannnya. Andaikan setiap orang melakukan hal sama, itu artinya membiarkan orang gila tersebut memakan kotorannya sendiri atau mengais sesuatu yg bisa dimakan di tempat-tempat sampah. Apabila kita memberi makan mereka, lalu kemudian diikuti oleh orang lain yg melihatnya, maka kita mendapatkan ganjaran yg sama. Insyaa Allah.

Penurunan Rumus Regresi Linier


Dalam postingan sebelumnya (sudah lampau), pernah saya memposting dua artikel tentang regresi yakni regresi linier sederhana dan regresi linier berganda. Semuanya dilakukan dengan bantuan excel. Namun pada postingan kali ini, saya justru flash back ke belakang. Yakni, menurunkan rumus regresi sederhana dan insya Allah ke depan menyusul lanjutannya yang lebih komprehensif (regresi ekponensial, polinomial orde dua, tiga dan tinggi).

Formula dari model matematika dari berbagai sistem fisik adalah langkah dasar  dalam proses evaluasinya. Sayangnya, formulasi seperti itu menjadi terlalu kompleks. Konsekuensinya, hubungan fungsi empiris sering dikembangkan untuk menggambarkan perilaku sistem menggunakan data eksperimen.

Dalam fitting (pencocokan) data dengan fungsi yang diaproksimasi, terdapat dua pendekatan dasar. Pendekatan pertama melibatkan fungsi yang diasumsikan (biasanya polinomial) melalui setiap titik data. 

Metode Least Square (Kuadrat Terkecil)

Metode evaluasi formula empiris ini dikembangkan lebih dari satu abad yang lalu dan telah digunakan selama bertahun-tahun. Seperti metode Spline Cubic, metode Least Square berusaha untuk mencocokkan  fungsi sederhana melalui sehimpunan titik data tanpa masalah penyimpangan jauh terhadap polinomial orde tinggi. (Amir Wadi adn John R. Tooley)

E1 adalah deviasi atau penyimpangan antara titik data dengan kurva yang mencocoki. Terkadang dalam buku-buku lain dinotasikan dengan “d”

4c

(linier 1

linier 2
linier 3
linier 4a

atau (f=y):

4b

[Taufiqur Rokhman, Unisma Bekasi – 10062015 – 04.00 PM]

By Taufiqur Rokhman Posted in Home

Salam kepada Anak-anak


Diantara kebiasaan Beliau, Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang barangkali belum pernah diteladani oleh kita sebagai ummatnya adalah mengucapkan salam kepada anak-anak. Nabi tidak pernah merasa gengsi mengucapkan salam terlebih dahulu kepada setiap orang yang dijumpainya bahkan salamkepada anak-anak sekalipun.

Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘Anhu bahwa suatu saat dia melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi salam kepada mereka, kemudian ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam biasa melakukan hal ini.” (Muttafaq Alaih).

Maasyaa Allah, sungguh ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya sikap tawadhu dari Nabi kita.  Disamping itu, teladan Nabi ini akan memberikan pengajaran kepada mereka (anak-anak kecil tersebut) sunnahnya mengucapkan salam yang barang kali sulit sekali ditemukan pemandangan seperti itu di jaman sekarang ini.

Siapa diantara kita yang sudah mempraktekkan sunnah Nabi yang satu ini? Entah apa yang menghalangi kita sehingga kita belum menjalankan sunnah yang demikian mudah ini. Apakah karena ketidaktahuan kita, bahwasanya itu sunnah Nabi? Ataukah keangkuhan diri kita, sehingga kita merasa gengsi apabila harus mengucapkan salam terlebih dahulu kepada anak-anak kecil. Jangankan dengan anak kecil, dengan teman kita sebaya saja, mungkin diantara kita masih banyak yang belum melazimi sunnah mengucap salam. 

Allaahummaa Shalliy wa Sallim wa Baarik alaik, Yaaa Rasulullah….

[Taufiqur Rokhman – Perumnas III, 09072015-08.45PM]

Darimana Datangnya Rizki Berupa Makanan Yang kita Santap Sehari-Hari?


Apa yang Anda rasakan bila tiba-tiba Anda dihadiahi makanan favorit Anda oleh teman Anda atau tetangga Anda? Mungkin saat itu, Anda akan sangat berterima kasih. Lalu ketika makan, Anda pun masih teringat olehnya. Bahkan saat itu Anda berniat untuk segera membalas kebaikannya. 

Namun pernahkah kita menghadirkan Allah dalam hati kita tatkala makan? Dari siapakah sejatinya makanan yang tunas-tali-putriterhidang di hadapan kita? Apakah semata-mata dari usaha kita? Bekerja, nyari uang, lalu uangnya kita gunakan untuk beli beras atau nasi dan lauk pauk lalu tersaji di hadapan kita? Lantas… tidakkah kita berfikir bahwasanya semua  makanan yang terhidang untuk kita, semuanya Allah keluarkan dari tanam-tanaman yang tumbuh di atas permukaan bumi dan juga binatang ternak yang Allah kembang biakkan untuk kemaslahatan hidup manusia? Dan pernahkan kita berfikir juga bagaimana bisa, tunas tanaman yang masih kecil dan lemah sekali bisa tumbuh ke atas membelah bumi?Padahal logikanya, bumi itu keras sedang tanaman yang masih tunas tersebut lemah. Ya, bahkan lemah sekali. Sebagaimana bayi yang baru lahir, pun sangat lemah, semuanya bergantung 100 persen kepada orang tuanya. Lantas apakah itu hanya fenomena alam belaka?

Sungguh kita yakin bahwasanya di balik itu semua ada Dzat yang mengatur alam semesta ini dengan sangat sempurna. Ya, Dialah Allah Tabaaroka wa Ta’ala. Lihat bagaimana Allah Ta’ala menerangkan dengan sangat gamblang proses pertumbuhan tanaman dan pepohonan hingga kemudian bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan manusia. Allah berfirman dalam Surat ‘Abasa (yang artinya):

”Hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-­baiknya. Lalu, Kami tumbuhkan biji-bjian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buah serta rumput­-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang­binatang ternakmu.” (‘Abasa: 25-32)

Maka, siapapun  yang memperhatikan berbagai nikmat ini, WAJIB baginya bersyukur kepada Rabb-nya dan mencurahkan daya untuk kembali pada-Nya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-berita-Nya. Semoga kita tergolong orang-orang yang pandai mensyukuri pemberian.

Semoga Bermanfaat . . .

[Perumnas III, 02062015. 08.30 PM – Taufiqur Rokhman]

Update otomatis Jam (Clock) Pada Komputer


Entah sejak kapan, local time pada laptop saya tidak update alias kembali ke waktu dimana laptop ini difabrikasi. Prediksi saja sejak laptop  saya ini ganti charger. Rasa-rasanya kok merepotkan (gak repot2 amat sih sebetulnya) kalau kudu update manual jam dan tanggal setiap laptop baru saja dihidupkan. Sebab apabila dibiarkan waktu dan tanggalnya seperti tanggal fabrikasinya, sudah barang tentu gagal mengakses beberapa situs yang minta update tanggal dan waktu. Kiranya awalnya laptop saya harus ganti charger. Namun setelah saya tanya2 mbah google, maka dapatlah saya jawabanya.

Apabila panjenengan mengalami hal serupa seperti saya, maka ini saya share cara mengatasinya:

Langkah2nya:

[1]  Pastikan bahwa setting sinkronisasi jam ke internet time server dipilih. Caranya : klik kanan pada jam yang ada di tray (biasanya terdapat pada pojok kanan taskbar komputer Anda), pilih Adjust Date/Time, pilih tab Internet Time, berikan tanda centang pada pilihan Automatically synchronize with an Internet time server, pilih server time.windows.com kemudian klik OK

time 1

time 2

[2] Jalankan regedit (dengan cara masuk ke search pada start-button atau tekan tombol Windows+R, lalu ketik regeditpilih HKEY_LOCAL_MACHINE, pilih SYSTEM, pilih CurrentControlSet, pilih Services, pilih W32Time, pilih TimeProviders,pilih NtpClient, pilih SpecialPollInterval. Masukkan dalam decimal jumlah detik yang Anda inginkan, misalnya 86400 untuk 1 hari (24 jam) dan klik OK, keluar dari regedit dan restart Windows Anda.

time 1 time 3

time 4

[3] Pastikan komputer Anda terhubung ke Internet.

[4] Lakukan update 1 kali saja melalui menu Update Now menu Adjust Date/Time.

time 5

[5] Keesokan harinya Anda tidak perlu update manual lagi. Jadi misalkan hari ini Anda melakukan update manual, lihat di kalimat Next synchronization, kalau di situ sudah tertera tanggal besok, berarti setting sinkronisasi jam otomatis di komputer Anda sudah selesai.

Semoga bermanfaat…

[Perumnas III – 02062015-07.30 PM -Taufiqur Rokhman]

Hutang Piutang dan Jual Beli


Sebagaimana terdapat dalam ayat Al-quran yang terpanjang yang menerangkan tentang waris, ayat tentang muamalah lainnya seperti jual beli dan hutang piutang juga tidak kalah panjang, dimana sampai-sampai Allah Jalla Jalaluh menjelaskan secara detail kaifiyatnya atau tata caranya. Padahal dalam ibadah-ibadah lainnya yang notabene lebih asasi karena merupakan rukun islam, seperti Sholat, zakat, puasa dan haji, Allah Jalla Jalaluh hanya menyebutkan secara global contoh-surat-perjanjian-hutang-piutangsaja. Adapun kaifiyatnya diterangkan secara rinci dalam hadits2 Nabi yang mutawatir. Mengapa demikian? Apakah ini berarti bahwa ibadah-ibadah yang lebih asasi tersebut, tidak lebih mulia daripada muamalah? Tentu saja tidak. Tidaklah Allah menjelaskan secara detail dan langsung dalam kalamnya kecuali mengandung hikmah yang sangat agung. Allah menunjukkan kepada manusia bagaimana Islam memberikan perhatian yang sangat besar akan penjagaan hak-hak dan hubungan manusia. Bagaimana apabila diantara manusia sudah mengabaikan hak-hak selainnya dan hanya menuntut haknya sendiri? Maka kita pun bisa membayangkan betapa kacaunya dunia ini. 

Oleh karenanya mari kita simak ayat tersebut dan semoga kita dapat mendulang faidah yang demikian banyak yang mampu dikeluarkan oleh ulama tafsir abad ini Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di  meski hanya satu ayat tersebut:

Dimana Allah berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلْ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنْ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْوَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمْ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Tafsir Ayat dan Faidah yang dapat dipetik:

Ayat-ayat ini meliputi petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam muamalah di antara mereka yaitu pemeliharaan dan kemaslahatan yang oleh orang-orang yang ahli pikir pun tidak mampu memberikan sarannya yang lebih baik dan lebih sempurna darinya, karena di dalamnya banyak sekali faidah-faidahnya, di antaranya:

[1] Bolehnya muamalah dalam bentuk hutang piutang, baik berupa hutang-hutang salam [1] atau pembelian barang yang harganya ditangguhkan, semua itu boleh dilakukan, karena Allah Ta’ala telah mengabarkannya berkaitan dengan kaum Mukminin, dan apapun yang Allah kabarkan tentang kaum Mukminin, maka sesungguhnya hal itu termasuk konsekuensi keimanan dan telah ditetapkan juga hal itu oleh Allah Yang Maha Kuasa.

[2] Wajibnya menyebutkan tempo pembayaran dalam seluruh transaksi hutang piutang dan masa penyewaan.

[3] Bahwasannya apabila tempo itu tidak diketahui, maka itu tidak halal, karena itu (sangat rentan) adanya tipu daya dan berbahaya, maka hal itu termasuk dalam perjudian.

[4] Allah Ta’ala memerintahkan untuk mencatat (dokumentasi) hutang piutang. Perkara yang satu ini terkadang menjadi wajib yaitu apabila wajib memelihara hak seperti milik seorang hamba yang wajib atasnya perwalian contohnya harta anak yatim, wakaf, perwalian, amanah, dan terkadang juga mendekatiwajib sebagaimana bila hak itu semata-mata milik seorang hamba. Dan terkadang juga lebih berat kepada wajib dan terkadang lebih berat kepada sunnah, sesuai dengan kondisi yang dituntut untuk masalah itu. Dan pada intinya pencatatan itu adalah merupakan perangkat yang paling besar dalam menjaga muamalah-muamalah yang tertangguhkan karena rentan terjadi kelupaan dan kesalahan, dan sebagai tindakan pencegahan dari orang-orang yang tidak amanah yang tidak takut kepada Allah Ta’ala.

[5] Perintah Allah kepada juru tulis untuk menulis antara kedua pihak yang bermuamalah itu dengan adil, ia tidak boleh condong kepada salah satu pihak karena faktor keluarga misalnya atau selainnya, atau memusuhi salah satunya karena suatu dendam dan semacamnya.

[6] Bahwasanya penulisan antara kedua belah pihak yang bermuamalah adalah diantara amala-amal yang paling utama dan tindakan kebaikan kepada keduanya. Dalam pencatatan itu mengandung pemeliharaan hak-hak keduanya dan melepasakan tanggung jawab dari keduanya seperti yang diperintahkan oleh Allah. Maka hendaklah juru tulis mencari pahala (dengan profesinya) di antara manusia dengan perkara-perkara ini agar mendapat keberuntungan dengan balasa baiknya.

[7] Hendaklah juru tulis mengetahui keadilan dan terkenal dengan keadilan, karena bila dia tidak mengerti keadilan, pastilah dia tidak akan bisa mewujudkannya, dan apabila keadilannya tidak diakui oleh orang banyak dan tidak diridhai mereka maka pastilah pencatatan juga tidak akan diakui, dan maksud yang diinginkan tidak akan terwujud yaitu pemeliharaan hak.

[8] Bahwasannya kesempurnaan dari pencatatan  dan keadilan dalam muamalah itu adalah bahwa juru tulis itu ahli dalam merangkai kata dan membuat kalimat yang sesuai dalam segala macam muamalah  sesuai dengan jenisnya, dan kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat dalam hal ini memiliki peran yang cukup besar. 

[9] Bahwasanya pencatatan itu diantara nikmat-nikmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya, di mana urusan-urusan agama dan urusan-urusan dunia mereka tidak akan lurus kecuali dengannya. Dan bahwasannya barang siapa yang diajarkan oleh Allah penulisan, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang besar, dan menjadi kesempurnaan syukurnya terhadap nikmat Allah Ta’ala itu, agar Dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan hamba dengan pencatatan yang dilakukannya dan dia tidak boleh menolak untuk menulis. Karena itu Allah berfirman (yang artinya) “Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya.”

[10] Bahwasanya apa yang ditulis oleh juru tulis itu merupakan pengakuan dari orang yang menanggung hak apabila dia mampu merangkai kata tentang hak yang wajib atas dirinya tersebut. Namun apabila ia tidak mampu akan hal itu karena umurnya yang masih kecil atau kebodohannya, ketidakwarasannya, kebisuannya, atau ketidakmampuannya, maka waliny harus melakukannya untuknya, dan walinya itu sebagai wakil dirinya dalam hal tersebut.

[11] Bahwasanya pengakuan itu adalah jalan yang paling besar dalam menetapkan suatu hak, di mana Allah Ta’ala memerintahkan  kepada juru tulis untuk menulis apa yang didektekan oleh orang yang menanggung hak orang lain.

[12] Penetapan perwalian bagi orang-orang yang tidak mampu seperti anak kecil, orang gila, orang bodoh dan semacamnya.

[13] Bahwasanya seorang wali itu posisinya sama seperti posisi orang yang diwalikannya dalam segala pengakuannya yang berkaitan dengan hak-haknya.

[14] Bahwasanya orang yang Anda percaya dalam suatu muamalah dan Anda serahkan urusan itu kepadanya, maka perkataannya dalam perkara itu dapat diterima, karena dia adalah pengganti diri Anda, karena apabila wali itu untuk orang-orang yang tidak mampu menempati posisi mereka, maka orang yang Anda jadikan wali dengan pilihan Anda sendiri lalu Anda serahkan urusan itu kepadanya adalah lebih utama diterima dan diakui perkataannya dan didahulukan daripada perkataan Anda sendiri ketika terjadi perselisihan.

[15] Bahwasanya diwajibkan atas orang yang menanggung hak orang lain, apabila mendiktekan kepada juru tulis agar bertakwa kepada Allah dan tidak berlaku curang terhadap hak yang ditanggungnya. Ia tidak mengurangi jumlahnya atau sifatnya, atau syarat di antara syarat-syaratnya atau ukuran di antara  ukuran-ukurannya. Akan tetapi ia harus mengakui setiap hal yang berkaitan dengan hak tersebut sebagaimana juga hal itu wajib atas orang lain yang menanggung hak dirinya. Barang siapa yang tidak melaksanakan itu, maka ia termasuk orang-orang yang curang lagi mencurangi (timbangan dan takaran).

[16] Wajib mengakui hak-hak yang nampak dan hak-hak yang tersembunyi, dan bahwa hal itu adalah di antara karakter terbesar ketakwaan, sebagaimana menolak pengakuan adalah di antara pembatal ketakwaan dan yang menguranginya.

[17] Petunjuk untuk mengadakan saksi dalam jual beli. Apabila dalam hal hutang piutang, maka hukumnya adalah hukum pencatatan sebagaimana yang telah lalu. Karena penulisan itu adalah pencatatan kesaksian. Apabila jual beli itu adalah jual beli tunai, maka seyogyanya ada saksi padanya dan tidak berdosa bila meninggalkan penulisan karena banyaknya dan adanya kesulitan untuk menulis (semua kasus yang ada)

[18] Petunjuk untuk mengadakan saksi dua orang laki-laki yang adil, namun apabila tidak memungkinkan atau tidak ada atau sulit, maka boleh satu laki-laki dan dua wanita. Itu mencakup segala macam muamalah, transaksi obligasi dan transaksi utang piutang dengan segala hal yang berkaitan dengannya, seperti syarat-syarat atau dokumen-dokumen atau semacamnya.

Apabila ada keberatan yang mengatakan bahwa terdapat riwayat shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memutuskan dengan satu saksi saja disertai sumpah, tetapi kenapa ayat yang mulia ini tidak menunjukkan kecuali hanya saksi dua lak-laki atau satu laki-laki dan dua wanita? dapat dijawab, bahwa ayat yang mulia ini mengandung petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menjaga hak-hak mereka. OIeh karena itu Allah mendatangkan padanya jalan yang paling sempurna dan yang paling kuat, dan ayat ini juga tidak mengandung hal yang meniadakan  (menafikan) apa yang disebutkan oleh Nabi dengan menetapkan satu saksi yang disertai sumpah. Masalah memelihara hak-hak, pada awal-awalnya Allah mengarahkan hamba-Nya untuk berhati-hati dan menjaga secara total. Masalah ketetapan di antara kedua pihak yang bersengketa dipertimbangkan dengan melihat segala hal yang membantu dan keterangan-keterangan yang ada sesuai keadaan dan kondisinya.

[19] Bahwasanya kesaksian dua orang wanita itu sebanding dengan satu laki-laki dalam hak-hak duniawi. Adapun dalam perkara-perkara agama seperti periwayatan dan fatwa, maka seorang wanita satu derajad (sama dengan) laki-laki. Perbedaan antara dua perkara itu sangatlah jelas sekali.

[20] Petunjuk kepada hikmah dibalik perbandingan kesaksian dua wanita dengan satu laki-laki yang mana hal itu dikarenakan kelemahan daya ingat wanita pada umumnya dan kuatnya daya ingat laki-laki.

[21] Bahwasanya sekiranya  seorang saksi bila melupakan kesaksiannya namun saksi yang lainnya mengingatkannya lalu dia teringat kembali, maka kelupaan itu tidaklah mengapa bila dapat dihindarkan dengan adanya pengingatan tersebut, berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya”. Yang lebih baik lagi adalah bila seorang saksi itu lupa kemudian dia bisa mengingat kembali tanpa diingatkan oleh saksi lainnya, karena sesungguhnya kesaksian itu intinya adalah keyakinan dan ilmu.

[22] Bahwasanya kesaksian itu harus dengan dasar ilmu dan keyakinan, bukan keraguan. Maka ketika terjadi keraguan pada seorang saksi dalam kesaksiannya walaupun berdasarkan dugaan terkuatnya, tidaklah halal baginya untuk bersaksi kecuali dengan apa yang ia ketahui dengan yakin.

[23] Bahwasanya seorang saksi itu tidak boleh menolak bila diminta untuk bersaksi, baik saksi untuk membela atau untuk melawan, dan bahwasanya menunaikan kesaksian itu adalah di antara amalan-amalan shalih yang paling utama sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan mengabarkan  tentang manfaatnya dan berbagai kemaslahatannya.

[24] Bahwasanya tidaklah boleh memudaratkan juru tulis dan tidak juga saksi, yaitu dengan dipanggil pada waktu-waktu yang memudaratkan mereka berdua. Dan sebagaimana orang-orang yang memiliki hak dan orang-orang saling bermuamalah itu dilarang merugikan para juru tulis maupunpara saksi, begitu pula juru tulis dan saksi tidak boleh merugikan orang -orang yang memiliki hak maupun kedua pihak yang bermuamalah atau salah satu pihak dari keduanya. Dalam hal ini bahwa saksi maupun juru tulis bila terjadi kerugian pada mereka dalam hal penulisan maupun kesaksian, makakewajiban keduanya gugur.

[25] Peringatan bahwasanya orang-orang yang baik yang melakukan kebajikan, tidaklah halal merugikan dan memberatkan mereka dengan suatu hal yang tidak mereka sanggupi. Tidaklah pahala kebajikan itu adalah kebajikan juga? Dan demikian juga atas orang-orang yang melakukan kebajikan, agar menyempurnakan kebaikan mereka dengan tidak merugikan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan terhadap orang-orang yang menjadi obyek kebaikan mereka, karena sesungguhnya kebajikan itu tidaklah sempurna kecuali dengan sikap tersebut.

 

By Taufiqur Rokhman Posted in Home

Fluida Dinamis


Sobat blogger, dalam postingan kali ini saya share tulisan menarik berkenaan dengan fluida dinamis. Ini merupakan konsep dasar fluida dinamis yang sangat berguna dalam perancangan mesin-mesin fluda dan perhitungannya.

Rumus Minimal

Debit
Q = V/t
Q = Av

Keterangan :
Q = debit (m3/s)
V = volume (m3)
t = waktu (s)
A = luas penampang (m2)
v = kecepatan aliran (m/s)
1 liter = 1 dm3 = 10−3 m3

Persamaan Kontinuitas
Q1 = Q2
A1v1 = A2v2

Persamaan Bernoulli
P + 1/2 ρv2 + ρgh = Konstant
P1 + 1/2 ρv12 + ρgh1 = P2 + 1/2 ρv22 + ρgh2
Continue reading

Menggabungkan Beberapa Dokumen Terpisah Menjadi Satu Dokumen Pada Ms.Word 2007/2010


Bismillah, Sobat blogger ada trik yang lebih mudah dan cepat ketika Anda ingin menggabungkan beberapa dokumen terpisah menjadi satu dokumen pada Ms. Word 2007/2010 dibandingkan dengan copy paste. So, Ikuti langkah-langkah berikut:

[1] Buka lembar baru Ms. Word 2007/2010.

[2] Masuk atau klik menu insert

Objek 1

[3] Klik sub-menu object lalu pilih/klik text from file

Objek 2

[4] Pilih beberapa dokumen yang akan digabungkan ke dokumen yang aktif dengan menggunakan mouse (mendrag kursor) atau mengklik beberapa dokumen sambil menekan tombol ctrl. Akhiri dengan meng-klik insert

Objek3

[5] Selesai.

Sebagai catatan:

Dokumen yang ditempatkan paling atas akan digabungkan pertama kali. Karenanya urutan teks pada dokumen target mengikuti urutan file pada beberapa dokumen yang terpisah. Urutan dokumen yang terpisah dapat kita sesuaikan dengan mengganti nama sesuai urutan abjad dengan sortir nama).

Semoga Bermanfaat . . .

[Taufiqur Rokhman – Perumnas III Bekasi, 23052015]

 

By Taufiqur Rokhman Posted in Ms. Word

Menggunakan Form Interaktif 


Penjelasan singkat : 

Dalam latihan ini akan dilakukan pembuatan form input data interaktif dengan memanfaatkan form control yang ada dalam excel. 

Tahap 1:   Mahasiswa menuliskan contoh soal / kasus daftar Biaya BPP Tetap Program Studi Unisma sebagai berikut dengan microsoft excel pada sheet 1:

Pertemuan 7 1

Tahap 2:  Mahasiswa  menambahkan  Ribbon  Developer  pada  menu  untuk  excel  2007 dengan mengklik excel option seperti berikut:  Continue reading

Seminar HAKI


Untuk kali pertama Fakultas Teknik Unisma Bekasi menyelenggarakan Seminar HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) di gedung Pasca Sarjana Unisma Bekasi, pada Rabu 29 April 2015. Seminar yang dihadiri oleh sebagian besar dosen FT dan perwakilan dosen Fakultas lain di lingkungan Unisma ini menghadirkan dua nara sumber yang kompeten di bidangnya yakni DR-Ing Agus Sofwan, MT dan Ir. Tabroni, MT. Mereka adalah dosen tetap ISTN. Satu diantara mereka pernah mengajukan HAKI dan lolos.

Dalam pemaparan materinya, pembicara pertama menguraikan tujuan HAKI, karya atau produk yang dapat diajukan HAKI-nya, mekanisme pengajuan HAKI dan lain-lain. Adapun pembicara kedua menguraikan dan membagikan pengalamannya dalam pengajuan HAKI hingga goal berserta kendala-kendalanya. Ekspektasi dari acari ini adalah memotivasi sekaligus memberikan wawasan keilmuan akan HAKI kepada para peserta yang sudah memiliki karya yang unik dan bermanfaat untuk mematenkannya juga kepada para peserta yang belum memiliki karya unik agar lebih berinovasi dan bereksploasi.

Tampak para peserta begitu antusias menyimak dengan seksama uraian kedua nara sumber. Berharap dalam waktu dekat mereka bisa mengikuti jejak nara sumbernya untuk mempatenkan hasil karya-nya. Semoga kedepannya FT Unisma Bekasi lebih dapat menunjukkan kepada dunia luar akan eksistensinya dan kontribusinya kepada khalayak baik industri, akademisi maupun publik, demikian yang dituturkan Bapak Dekan, H. Sugeng, ST, MT dalam sambutannya di awal acara.

DSC_0173

DSC_0147

Mendisiplinkan Diri


Mendisiplinkan diri bukan sebatas pada kehadiran dalam suatu acara dengan tepat waktu. Lebih dari itu mendisiplinkan diri bermakna pemaksaan diri untuk mematuhi agenda harian yang sudah disusun diawalnya dan akan menjadi kebiasaan yang teratur sehingga ringan untuk dijalankan setelahnya. Bagaimana setiap harinya kita bisa dengan teratur menjalankan sholat berjamaah tepat waktu, tadarus al-quran dan membaca buku. Apabila semua itu dapat kita dawamkan setiap hari, maka kita dianggap sudah mendisiplinkan diri.

Ya, menurut saya kedisiplinan diri itulah diantara kunci sukses hidup kita. Kemauan kita untuk memaksa diri untuk  move on dari kebiasaan buruk ke kebiasaan baik dan kemudian memeliharanya, menjadi prasyarat bagi kita untuk maju dan menjadi hebat.

Dua nama yang yang cukup banyak memberikan ilmu dan  pelajaran bagi saya terkait pendisiplinan diri adalah Ciptadi WK dan Djoko Sambodo.  Yang pertama adalah rekan kuliah S-2 saya dan yang kedua adalah rekan dosen sekaligus partner kerja di dewan redaksi Buletin Al-Fatah yang kami kelola dan terbitkan setiap semester. Ndilalah dua-duanya pernah pernah menjabat dalam posisi strategis yaitu ketua/pemimpin. Sebagaimana yang maklum, tugas seorang pemimpin adalah mengkoordinasi anggotanya atau bawahannya untuk bekerja secara bersama-sama mewujudkan visi yang dicanangkan.  Hanya saja bedanya, yang pertama garang yang kedua lembut namun tetap menyentil. 

Berdasarkan penuturannya, Pa Ciptadi tak segan-segan untuk menegur bahkan memperingatkan dengan keras manakala anggota atau siapapun yang menjadi bawahannya undiscipline. Dan beliau tidak peduli siapapun mereka. Bahkan sekalipun dengan atasannya. Apabila menurut beliau, sang atasan melakukan tindakan pelanggaran terhadap sesuatu yang jelas-jelas benar, maka beliau pun tak segan-segan memperingatkan. Tidak ada yang harus beliau jaga dalam jabatannya sebagai ketua kecuali komitmen pada apa-apa yang benar dan baik serta mengikuti tata tertib dan peraturan yang sudah dibuat. Demikian sekelumit pengalaman beliau sebagai pimpinan yang beliau bagikan ke saya.

Sementara Pa Djoko Sambodo, beliau dikenal oleh rekan-rekannya termasuk saya sebagai sosok yang sangat disiplin. Beliau sangat commit terhadap kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat. Itu sebabnya, dalam kapasitasnya sebagai pimpinan, beliau tak jarang mengingatkan anggotanya progress atau kemajuan pekerjaannya. Pernah beliau menuturkan kepada saya, pengalamannya berpartner dengan seorang jaksa. Sebelumnya sudah terjadi kesepakatan bertemu antara beliau dan jaksa tersebut, lengkap tanggal dan waktunya. Akan tetapi ketika hari-H nya, entah lupa atau ada kesibukan lain, Bu Jaksa tidak mengkonfirmasi sebab ketidakhadirannya. Padahal Pa Djoko sudah menunggu hingga satu jam. Disaat itulah Pa Djoko tidak segan-segan mengingatkan berkali-kali via SMS atau telp perihal pertemuannya. Dan begitulah yang kerap beliau terapkan terhadap partner kerja beliau yang lain. 

Itulah sedikit ilmu yang dapat saya pelajari dari kedua teman saya. Bahwasanya, kita harus mau dan mampu memaksa diri untuk mendisiplinkan diri kita menjadi lebih baik. Dan itupun tidak menuntut bahwa apa yang kita lakukan setiap hari harus banyak. Yang terpenting adalah rutin. Bukankah amalan yang paling dicintai Allah adalah yang rutin meskipun sedikit. Oleh karena itu, marilah kita terus mendawamkan aktivitas-aktivitas bernilai ibadah hingga menjadi sebuah kebiasaan yang apabila kita tinggalkan sekali saja, maka akan terasa penyesalan di hati kita.

By Taufiqur Rokhman Posted in Home

Warisan Terbaik Untuk Anak


Di hari pembaiatan khalifah al-Mansur, datanglah Muqatil bin Sulaiman rahimahullah, kemudian sang khalifah pun berkata kepadanya, “Nasihatilah aku wahai Muqatil!”. Beliau menjawab, “apakah nasihat dengan apa yang pernah saya lihat ataukah dengan apa yang pernah saya dengar?”

bapa-dan-anakKhalifah menjawab, “Nasihatilah aku dengan apa yang pernah engkau lihat!”

Muqatil mulai memberikan nasihat, “Wahai Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz (khalifah yang terdahulu) mempunyai 11 anak. Akan tetapi saat meninggal, beliau hanya meninggalkan warisan 18 dinar saja. 5 dinar di antaranya untuk membeli kafan, 4 dinar untuk membeli pekuburan beliau, dan sisanya 9 dinar dibagikan kepada 11 anaknya.

adapun Hisyam bin Abdul Malik (khalifah setelahnya) memiliki 11 orang anak juga, dan saat beliau wafat, masing-masing anak mendapatkan bagian 1 juta dinar.

Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri di satu hari yang sama, salah satu anak Umar bin Abdul Aziz (yang hanya mendapatkan warisan 9/11 dinar) bersedekah 100 kuda perang untuk keperluan jihad fii sabilillah, sementara salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik (yang mendapat warisan 1 juta dinar), sedang mengemis di dalam pasar.

Orang-orang pernah bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz saat menjelang wafatnya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?!”

Beliau menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka ketaqwaan kepada Allah. Ketika mereka menjadi orang-orang yang shalih, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang shalih. Jika ternyata mereka bukan orang yang shalih, setidaknya saya tidak mewariskan kepada mereka sesuatu yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah.”

(Hibiy ya Rihal Liman, Syeikh Khalid Abu Syadi)

Nasehat Singkat Menjelang Ujian Semester 2014-2015


Menjelang Ujian Tengah Semester kelak, ijinkanlah saya menyampaikan nasehat singkat ini kepada para mahasiswa, khususnya mahasiswa Teknik Mesin Unisma Bekasi. Semoga menjadikan motivasi bagi kalian semua. “Belajarlah dengan tekun. Karena sesungguhnya ujian semester itu dekat. Dan materi kuliahnya banyak. Manfaatkanlah waktu-waktu kosong kalian sebelum datang kepada kalian penyesalan. Ketahuilah wahai para mahasiswaku, bahwasanya ujian semester itu sulit, bagi siapa yang tidak membaca dan memahami”.

Opsi Yang Konyol


Pertanyaan menggelitik pada suatu judul berita yang dipublikasikan oleh beberapa media tanah air terkait kasus yang dialami oleh salah seorang pemimpin di negeri ini adalah “lebih baik mana pemimpin yang tegas terhadap koruptor dan bersih dari korupsi namun kurang santun dalam berbicara, dengan pemimpin yang santun dalam berbicara namun terjerat korupsi?”. Kontan berhamburan komentar menanggapi artikel tersebut. Banyak yang memilih opsi kedua. Namun tak kalah banyak, yang memilih opsi pertama. Tak sedikit komentator berbalas komentar, masing-masingnya saling hujat dan caci maki.

Kalau saya disodorkan pertanyaan seperti diatas, maka saya akan menjawab dua-duanya tidak ada yang baik. Kalau tidak ada yang baik berarti tidak ada yang lebih baik. Sehingga pertanyaan diatas lebih pas apabila diganti redaksinya diawal kalimatnya dengan “Mana yang lebih jelek…”. 

Ya, menurut saya dua-duanya memang tidak ada yang baik. Kalau ada orang yang kembali bertanya, “bila tidak ada di dunia ini calon pemimpin kecuali harus memilih dari dua orang yang masing-masing memiliki kriteria sebagaimana yang tersebut dalam pertanyaan diatas, mana yang anda pilih?” maka saya akan menjawab, pertanyaan Anda tidak bermanfaat dan tidak penting untuk dijawab. Sebab, anda mengkondisikan sesuatu hal yang tidak ada dan hanya mengandai-andai semata dan belum tentu kondisi tersebut riil Anda. Atau saya dapat juga menjawab, “Saya akan memilih pemimpin yang bebas dari korupsi alias amanah, tegas terhadap koruptor dan santun dalam berbicara”.

Di negara ini, saya sangat yakin masih banyak orang-orang yang memiliki potensi dan kriteria yang baik seperti diatas. Kalaupun sampai saat ini, pemimpin-pemimpin yang terpilih lebih banyak mengecewakan akan tetapi bukan berarti tidak ada pemimpin ideal yang memuaskan para pemilihnya dan semua pihak yang memiliki niat baik. Sebab, sememangnya semenjak dahulu sistemnya sendiri yang tidak mendukung untuk mendapatkan pemimpin yang ideal. Sistem demokrasilah yang menyamakan satu suara orang alim (ulamanya) dengan satu suara juhala-nya.

Sedangkan pemimpin yang meskipun bebas korupsi dan tegas terhadap koruptor namun tidak santun dalam berbicara dan tidak beradab dalam bersikap, bagaimana bisa disebut sebagai pemimpin yang layak dijadikan panutan. Justru yang ada, pemimpin yang demikian akan ditiru oleh orang-orang awam yang menjadi bawahannya. Demikian pula pemimpin yang memiliki kriteria yang satunya sebagai pembanding, juga tidak layak dijadikan panutan.

Setipe dengan pertanyaan diatas adalah pertanyaan tentang jilbab sebagai alibi bagi orang yang yang enggan berjilbab, yakni “lebih memilih mana, orang yang nggak berjilbab tapi hatinya berjilbab (akhlaknya baik) dengan orang yang berjilbab tapi akhlaknya bejat? analogi dengannya juga, pertanyaan, “lebih memilih mana orang yang sholat tapi akhlaknya bejat dengan orang yang nggak sholat tapi akhlaknya baik?”.

Maka tentu sebagai seorang muslim yang dihasung oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar memiliki cita-cita setinggi mungkin yakni surga firdaus sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu sabdanya, tentu akan memilih opsi yang seideal mungkin sekalipun bahkan tidak ada dalam opsi yang ditawarkan. Kita jawab saja, memangnya kamu tuhan yang bisa menakdirkan atau menentukan segala sesuatu kondisi sehingga dengannya terbatasi suatu pilihan yang tidak ada pilihan lain selain pilihan yang Anda tetapkan? Bukankah sebuah keputusan dari sebuah ucapan dan tindakan dalam kehidupan anda sehari-hari berangkat dari pilihan-pilihan yang menggelayut di kepala. Maka, saya akan memilih orang yang sholat dan akhlaknya baik. Demikian pula, orang yang berjilbab juga akhlaknya baik.

Oleh karena itu, seyogayanya kita tidak terseret dan latah melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang menunjukkan sikap pesimistis dan kerdil cita-cita. Sebaliknya tidak mengapa, melontarkan pertanyaan kepada orang lain maupun diri sendiri membandingkan dua perkara yang sama-sama baik dan memilih salah satunya yang lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan syaikhul islam Ibnu Taimiyah, “bukanlah orang yang cerdas itu orang yang dapat memilih dua perkara diantara yang haq dan bathil, diantara yang haram dan halal, namun orang yang cerdas adalah mereka yang mampu memilih yang sedikit mudharatnya diantara dua perkara yang sama-sama mudharat dan yang paling besar maslahatnya diantara dua perkara yang sama-sama maslahatnya.

Namun ingat, ketika kondisi belum benar-benar dikatakan darurat lalu kita mengklaim tanpa ilmu bahwasanya kondisinya sudah darurat sehingga dengannya kita melontarkan pertanyaan pilihan yang seakan-akan wajib dipilih salah satunya, maka inilah letak kekeliruannya. Semoga kita kian cerdas dalam menentukan setiap pilihan hidup yang semuanya berkonsekuensi.

Di situ Kadang Aku Merasa Sedih


Tatkala aku betah berjam-jam mantengin hp atau gadget hanya untuk mengulik status dari temen-temen dan portal berita, sementara setengah jam saja untuk membaca alquran dan mentadabburinya aku sudah merasa jenuh. Disitu kadang aku merasa sedih.

bacaan sholatKetika aku enjoy duduk khusuk di depan tv berjam-jam menyaksikan program demi program yang ditawarkan, sementara kewajiban sholat yang apabila ditunaikan secara tuma’ninah tak lebih dari 10 menit saja, tak jarang aku ingin segera menyudahinya. Maka bila mengingat hal itu dan nikmat Allah yang demikian berlimpah ruah, disitu kadang aku merasa sedih.

Diusiaku yang saat ini, dimana aku  mampu memahami bahasa asing (inggris)  sementara bahasa arab yang merupakan bahasa surat dari penciptanya kepada hamba-Nya, banyak kata demi katanya yang tak sanggup aku pahami. Disitu kadang aku merasa sedih.

Ketika amalan-amalan sunnah di luar amalan-amalan wajib sudah aku ketahui urgensi serta fadhilahnya, sementara sampai saat ini aku berpuas diri dengan amalan-amalan wajib dan itupun belum kuketahui apakah amalan itu diterima atau ditolak, di situ kadang aku merasa sedih.

Ketika baterai hpku lobet dan aku pun panik mencari charger supaya hp tetep bisa dihidupkan sehingga tidak terputus informasi dengan teman atau sahabat, sementara ketika iman di diri ini lobet, aku pun tak merasa panik mencari charger iman padahal tanpa sadar telah jauh bahkan terputus hubungan dengan Ar-Rahman. Di situ kadang aku merasa sedih.

Ketika orang tua sudah bertahun-tahun mendidik dan membekalkan diri ini dengan ilmu yang dengannya mereka berharap agar dimasa depannya kelak sang anak menjadi mandiri dan tak bergantung kepada siapapun kecuali kepada Rabb-nya, lalu kemudian diri ini pun jarang menghubungi orang tua meski sekedar menanyakan kabarnya. Di situ kadang saya  merasa sedih.

Sedihlah kalau memang dengannya  dirimu bisa memperbaiki keadaanmu saat ini. Namun, jangan lupa iringilah kesedihanmu dengan bertekad kuat memperbaiki kondisimu. Akankah kondisimu selamanya akan tetap seperti itu. Hingga datang ajal yang setelahnya tak bermanfaat lagi penyesalan. 

Semoga kesedihan itu merupakan kesedihan penyesalan dan muhasabah menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tujuan kita diciptakan. Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

By Taufiqur Rokhman Posted in Home

Kasih sayang


Kasih sayang orang tua terhadap anaknya bukanlah dengan selalu menuruti semua keinginan anaknya. Akan tetapi hakikat kasih sayang itu adalah mendatangkan kebaikan bagi sang anak dan mencegah kasih sayangkeburukan yang akan menimpanya. Demikian yg dituturkan secara makna oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziah. Itu sebabnya orang tua yg baik tidak akan pernah selamanya membiarkan anaknya bermain api atau segala sesuatu yg berbahaya sekalipun membuat sang anak menangis.

Dalam lingkup yg lebih luas, di lingkungan sekolah atau kampus bisa terjadi hal yg serupa. Keinginan siswa atau mahasiswa tidak selalunya sejalan dengan keinginan guru atau dosen. Sehingga protes bahkan demo terkadang dilakukan siswa lantaran keinginannya tidak terpenuhi.

Dalam aktivitas akademik pun sama. Tak sedikit apabila mahasiswa ditanya, mana yang Anda sukai, seorang guru yg jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah memberikan tugas, dengan guru yg sering memberikan tugas?maka sepakat mereka menjawab lebih suka guru yg jarang apalagi tak pernah memberikan tugas. Sebab, pandangan seorang siswa dan guru terkait suatu hal, bisa jadi kontradiksi. Guru memahami tugas bagi siswa sebagai instrumen agar siswa lebih sempurna dalam memahami ilmu yg sudah disampaikan di kelas. Sementara siswa memahami tugas tak ubahnya beban yg merampas waktu/hari libur mereka.

Dan tak jarang, tatkala mereka sudah lulus lebih2 yg mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajarinya selama berada di bangku sekolah/kuliah, mindset mereka berubah 180 derajad. Mereka lebih terkesan dan menyanjung guru2 yang dulunya mereka pisuhi, gerutui, lantaran kini mereka memperoleh banyak manfaat dari tugas2 yang diberikan dulu dan tentunya fahamnya ilmu tsb.

Dalam hubungan sesama manusia yang tak luput dari salah dan alpa saja, dianjurkan utk selalu ber-khusnudzon. Apatah lagi dalam hubungan manusia dengan Sang khaliq yang suci dari kesalahan dan kealpaan, tentu lebih dan amat sangat dianjurkan lagi. Betapapun pahit getirnya hidup yg dialami manusia, yakinlah Allah memberikan kebaikan dibaliknya. Namun kebaikan disinilah yg kerapkali tidak mampu ditangkap oleh manusia. Kebaikan yg dikehendaki Allah adalah kebaikan bagi agama seorang hamba dan kehidupan pasca kematiannya.

Dan itulah bentuk kasih sayang Allah yang tidak disadari dan difahami oleh (sebagian) orang.

Boleh jadi Allah tidak mengabulkan keinginan seorang hamba utk menjadi kaya dengan kelebihan harta dan kemewahannya, sebab Allah Maha tahu apa yg akan menimpa pada seorang hamba tersebut setelahnya. Boleh jadi, ia makin berkurang ketaatannya kepada-Nya karena terlalaikan dengan kemilaunya harta. Atau boleh jadi ia menjadi takabur yang dengannya Allah menjerumuskan ia ke dalam neraka. Wal’iyadzubillah. Nas’alullah salamatan al ‘aafiyah.